Pegawai Digaji, Karyawan Dapat Komisi, Bersama Dai Mengabdi Untuk Negeri - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

Kamis, 23 April 2020

Pegawai Digaji, Karyawan Dapat Komisi, Bersama Dai Mengabdi Untuk Negeri

DI DALAM kondisi tidak mudah di tengah merebaknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang menghantui hampir semua sektor kehidupan saat ...
DI DALAM kondisi tidak mudah di tengah merebaknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang menghantui hampir semua sektor kehidupan saat ini, Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) terus bergerak mengabdi.

Aktifitas dakwah memang praktis tak bisa banyak dilakukan secara sekemuka sebagai ikhtiar kita memutus penyebaran wabah patogen ini. Namun berbagai upaya untuk itu tetap dijalankan, termasuk mujahadah meringankan beban mereka yang terdampak terutama para ustadz/dai, pengasuh pesantren dan guru guru ngaji.

Posdai mengerahkan sumber daya penanganan yang ada dengan aksi Posdai berbagai daerah. Sebagai bagian dari upaya yang komprehensif dan tetap mematuhi protap pencegahan, Posdai memberikan bantuan sembako bagi mereka yang membutuhkan termasuk bagi kelompok orang paling rentan, di samping pembinaan keagamaan.

Ikhtiar taawun Posdai tersebut kemudian semakin diteguhkan pada bulan Ramadhan 1441 ini dengan mengangkat tagline "Dai Mengabdi, Butuh Tanpa Keluh".

Direktur Posdai Ust Ahmad Suhail mengatakan, slogan Dai Mengabdi, Butuh Tanpa Keluh, merupakan spirit Nubuwwah dimana inspirasi dari program ini adalah kekariman penuh sahaja kaum Anshar dan kaum Muhajirin di masa Rasulullah SAW.

"Ini adalah tentang jiwa penolong. Meskipun para dai ini dirinya sendiri dalam kesulitan mereka tetap memikirkan dan berbuat untuk nasib orang lain," kata Ahmad Suhail.

Tentu pandemi ini berpengaruh tidak saja di bidang kesehatan tetapi juga ekonomi. Kementerian Ketenagakerjaan bahkan mencatat, lebih dari 2 juta tenaga kerja yang terkena PHK akibat penyebaran wabah ini.

Data Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020, tercatat sebanyak 84.926 perusahaan telah merumahkan para pekerjanya. Sementara Kementerian Keuangan menyebutkan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan hingga 3,78 juta.

Dalam konsisi seperti itu, para dai yang notabene tak bergaji laiknya karyawan perusahaan apalagi dapat komisi akhir tahun, mereka tentu termasuk yang paling terdampak dari krisis panjang ini. Namun meskipun sangat butuh, mereka tak mengeluh.

"Ini adalah tentang jiwa kaya. Meskipun para dai itu kekurangan mereka tidak meminta. Orang mengira mereka tidak butuh, karena mereka tidak pernah mengeluh. Ilmunya menahan mereka untuk melakukan itu. Mereka tidak ingin merepotkan, merasa cukup dan terima dengan apa yang ada serta  ikhtiar semampu mereka. Inilah jiwa kaum Muhajirin, orang-orang yang hijrah - yang mau mengubah nasib," kata Suhail.

Namun, apapun dan dimanapun posisi kita berada, Suhail menjelaskan, setiap muslim sejatinya memiliki kewajiban menjalankan dakwah. Memerankan fungsi suluh agama ini untuk mengabarkan kebenaran dan mengajak kepada keselamatan.

Karenanya. Kita perlu bersama-sama, bersatu dan padu dalam gerak meniti jalan amanah dakwah ini. Dikala ada yang tampak kewalahan dalam perjalanan, kita papah hingga ringan bebannya. Disaat ada yang mulai menepi karena lelah, kondisi tak pasti dan penuh tekanan, kita kuatkan. 

Tanpa bimbingan wahyu manusia pasti tersesat. Suhail mengatakan, zaman ini sebenarnya sudah menunggu kedatangan seorang Nabi untuk membawa wahyu. Tetapi itu tidak mungkin, karena tidak ada lagi nabi sesudah Muhammad saw, dan al-Qur’an telah cukup menjadi pedoman hidup manusia sepanjang masa.

"Oleh karena itu, Dai-lah yang harus meneruskan tugas nabi: mengumandangkan wahyu itu kepada manusia," pungkasnya.

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri