Sinergi PosDai Menjawab Tantangan Literasi Dasar Keislaman dengan Hadirkan Qur’an Center
RAPAT kerja Yayasan GrandMBA atau Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al Qur’an yang digelar pada Sabtu, 10 Januari 2026, menjadi penanda pentin...
RAPAT kerja Yayasan GrandMBA atau Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al Qur’an yang digelar pada Sabtu, 10 Januari 2026, menjadi penanda penting bagi penguatan gerakan literasi Al Qur’an di Indonesia. Bertempat di Ruang Takmir Masjid Baitul Karim, Gedung Dakwah Pusat Hidayatullah Jakarta, forum tersebut secara khusus membahas rencana pendirian Yayasan Qur’an Center Hidayatullah sebagai pusat pengembangan pendidikan dan pengajaran Al Qur’an yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), Ustaz Abdul Muin, S.Sos., yang turut hadir dalam rapat kerja tersebut, menyampaikan bahwa inisiatif pendirian Qur’an Center lahir dari keprihatinan mendalam atas kondisi literasi Al Qur’an umat Islam yang masih relatif rendah.
“Kita menghadapi tantangan serius. Banyak kaum muslimin yang secara identitas beragama Islam, tetapi belum memiliki kedekatan yang memadai dengan Al Qur’an, baik dari aspek membaca, memahami, maupun mengamalkannya,” ujar Abdul Muin.
Sejumlah data dan kajian nasional menunjukkan bahwa tingkat kemampuan membaca Al Qur’an secara benar dan tartil di kalangan umat Islam Indonesia masih belum ideal. Berbagai survei lembaga pendidikan keislaman dan organisasi dakwah termasuk yang baru baru ini dirilis Kemenag mencatat bahwa sebagian besar umat Islam dewasa belum mampu membaca Al Qur’an dengan baik, sementara minat belajar Al Qur’an pada usia produktif cenderung menurun akibat tekanan aktivitas ekonomi dan sosial. Kondisi ini berimplikasi langsung pada lemahnya pemahaman nilai-nilai Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, Muin menjelaskan, Yayasan Qur’an Center Hidayatullah dirancang sebagai simpul strategis yang mengintegrasikan pembelajaran Al Qur’an, kaderisasi guru, serta pengembangan metode pengajaran yang adaptif dengan kebutuhan masyarakat.
Abdul Muin menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. “Al Qur’an harus kembali menjadi pusat peradaban umat. Karena itu, pengajaran Al Qur’an harus dikelola secara serius, sistematis, dan menyentuh semua lapisan masyarakat,” katanya.
Rapat kerja Yayasan GrandMBA juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga dakwah, masjid, dan komunitas pendidikan untuk memperluas jangkauan literasi Al Qur’an. Dengan pendirian Qur’an Center Hidayatullah, diharapkan lahir ekosistem pembelajaran Al Qur’an yang tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga menumbuhkan kecintaan dan komitmen umat terhadap nilai-nilai wahyu dalam kehidupan bermasyarakat.
















