Dakwah Mengajarkan Pelajaran tentang Kesabaran dan Syukur
PAGI PAGI ke pasar, pulang sambil menarik napas panjang. Harga cabai naik. Bawang naik. Telur naik. Beras juga belum benar-benar stabil. Ba...
PAGI PAGI ke pasar, pulang sambil menarik napas panjang. Harga cabai naik. Bawang naik. Telur naik. Beras juga belum benar-benar stabil. Banyak ibu rumah tangga merasakan hal yang sama. Uang belanja yang dulu cukup untuk seminggu, sekarang terasa habis lebih cepat.
Sebagai seorang ibu, terkadang yang paling berat bukan sekadar menghitung harga barang. Yang lebih berat adalah memikirkan bagaimana kebutuhan keluarga tetap terpenuhi tanpa membuat suasana rumah menjadi penuh keluhan.
Namun justru di dapurlah sering kali Allah mengajarkan pelajaran besar tentang kesabaran dan syukur.
Islam mengajarkan bahwa setiap nikmat harus dihargai. Bahkan sebutir nasi yang jatuh pun dianjurkan untuk tidak disia-siakan. Mengapa? Karena makanan bukan sekadar barang konsumsi. Makanan adalah rezeki yang Allah kirimkan melalui proses yang panjang. Ada petani yang menanam, ada hujan yang turun, ada tanah yang subur, ada tenaga yang bekerja.
Karena itu, saat harga pangan meningkat, salah satu bentuk syukur yang bisa kita lakukan adalah mengurangi tabzir atau pemborosan makanan.
Sering kali tanpa sadar, pemborosan justru terjadi di rumah sendiri. Sayur yang dibeli terlalu banyak lalu layu di kulkas. Nasi yang tersisa dibuang begitu saja. Buah-buahan yang tidak sempat dimakan akhirnya membusuk. Padahal jika dihitung dalam sebulan, nilainya bisa sangat besar.
Ibu-ibu kreatif biasanya memiliki banyak cara untuk menyiasati keadaan. Nasi sisa bisa diolah menjadi nasi goreng. Sayuran dapat diatur menu hariannya agar tidak terbuang. Belanja dilakukan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar tergoda promo.
Yang menarik, kebiasaan sederhana seperti ini bukan hanya strategi ekonomi rumah tangga. Ini adalah ibadah.
Setiap rupiah yang dihemat dari pemborosan dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih penting. Setiap makanan yang terselamatkan dari tempat sampah berarti kita sedang menjaga nikmat Allah.
Di tengah ujian dapur, jangan lupa melibatkan anak-anak. Ajarkan mereka untuk menghargai makanan. Biasakan mengambil makanan secukupnya. Tanamkan bahwa tidak semua orang memiliki akses pangan yang sama.
Anak yang menerima dakwah dari orangtuanya terutama sang ibu yang menuntunnya belajar bersyukur sejak kecil, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli dan lebih bertanggung jawab.
Harga-harga boleh naik. Situasi ekonomi boleh berubah. Tetapi jangan biarkan hati ikut menjadi sempit. Dapur yang sederhana tetap bisa menjadi sumber kebahagiaan jika diisi dengan syukur.
Mungkin hari ini lauk tidak sebanyak dulu. Mungkin menu harus lebih sederhana. Namun selama keluarga masih bisa berkumpul, masih ada makanan yang tersaji, dan masih ada doa yang dipanjatkan sebelum makan, sesungguhnya Allah masih menitipkan banyak nikmat yang tidak ternilai.
Kadang keberkahan bukan terletak pada banyaknya bahan makanan di dapur, melainkan pada hati yang mampu melihat karunia Allah di balik setiap piring yang terhidang.
















