Harta Haram Tidak Pernah Menjadi Solusi
ADA fenomena yang semakin mengkhawatirkan di tengah tekanan ekonomi masyarakat. Ketika kebutuhan hidup meningkat dan penghasilan terasa tid...
ADA fenomena yang semakin mengkhawatirkan di tengah tekanan ekonomi masyarakat. Ketika kebutuhan hidup meningkat dan penghasilan terasa tidak cukup, sebagian orang mulai mencari jalan keluar yang instan.
Mereka mengunduh aplikasi pinjaman ilegal. Mereka mencoba judi online dengan harapan mendapatkan keuntungan cepat. Mereka percaya bahwa keberuntungan bisa mengubah keadaan dalam semalam.
Padahal yang sering terjadi justru sebaliknya.
Judi online ibarat seseorang yang haus lalu meminum air laut. Semakin diminum, semakin haus. Semakin dikejar, semakin terjerat.
Pinjaman ilegal pun tidak jauh berbeda. Pada awalnya tampak seperti penyelamat. Namun setelah bunga, denda, dan tekanan penagihan datang, banyak orang justru tenggelam lebih dalam.
Inilah salah satu tragedi sosial terbesar zaman modern.
Teknologi yang seharusnya membantu kehidupan justru dimanfaatkan untuk mempercepat penyebaran kemudaratan.
Islam sejak awal telah memberikan peringatan yang sangat jelas mengenai harta haram. Mengapa? Karena persoalannya bukan hanya soal uang. Persoalannya adalah keberkahan hidup.
Ada orang yang memperoleh uang dengan cepat tetapi hidupnya dipenuhi konflik. Ada yang mendapatkan keuntungan besar tetapi kehilangan ketenangan. Ada yang merasa menang sesaat tetapi kehilangan masa depan.
Keberkahan tidak bisa dibeli.
Ketika sumber penghasilan tercemar, dampaknya sering menjalar ke berbagai aspek kehidupan. Hubungan keluarga terganggu. Kepercayaan rusak. Produktivitas menurun. Bahkan kesehatan mental ikut terdampak.
Karena itu, masalah judi online dan pinjol tidak boleh dilihat sebagai persoalan individu semata. Ini adalah masalah sosial.
Kita membutuhkan lingkungan yang saling menjaga.
Masjid harus aktif melakukan edukasi.
Sekolah harus memberikan literasi keuangan.
Tokoh masyarakat harus berani menyuarakan bahaya praktik-praktik merusak tersebut.
Keluarga juga harus menjadi benteng pertama.
Jangan sampai anak-anak belajar tentang uang dari iklan judi digital. Jangan sampai generasi muda lebih mengenal spekulasi daripada kerja keras.
Kita juga perlu jujur mengakui bahwa tekanan ekonomi memang nyata. Banyak orang yang terjebak bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka putus asa.
Namun justru pada titik itulah iman diuji.
Ketika keadaan sulit, apakah kita tetap memilih jalan yang halal atau tergoda mengambil jalan yang dilarang?
Setiap zaman memiliki ujiannya masing-masing.
Jika dahulu manusia diuji dengan kemiskinan secara fisik, hari ini manusia juga diuji dengan kemudahan akses terhadap kemaksiatan digital.
Maka mari saling mengingatkan. Jangan normalisasi judi online. Jangan anggap remeh pinjaman ilegal. Jangan mengira bahwa harta haram bisa menyelesaikan masalah.
Sebab, api yang kecil jika dibiarkan akan membakar seluruh rumah. Begitu pula dosa yang dianggap ringan, jika terus dilakukan, dapat menghancurkan kehidupan secara perlahan.
Kesulitan ekonomi memang berat. Tetapi kehilangan keberkahan jauh lebih berat.
















