Daurah Muallim di Sulbar Dorong Masyarakat Makin Dekat dengan Al-Qur’an
Instruktur Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al-Qur'an (Grand MBA) Nasional, Muhammad Agung Tranajaya, menekankan pentingnya m...
Instruktur Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al-Qur'an (Grand MBA) Nasional, Muhammad Agung Tranajaya, menekankan pentingnya membangun kedekatan masyarakat dengan Al-Qur’an sebagai fondasi pembentukan generasi yang terbimbing dan memiliki arah kehidupan yang kuat.
Pesan tersebut disampaikan dalam Daurah Mu’allim Al-Qur’an dan Grand MBA yang diikuti 60 guru Al-Qur’an, dai dan daiyah, serta murabbi halaqah dari berbagai daerah di Sulawesi Barat.
Kegiatan berlangsung di Masjid Al Walidain Hidayatullah Mamuju, Sabtu–Ahad (8–9/8/2026), dengan mengusung tema “Penguatan Kompetensi Guru Al-Qur’an dalam Membangun Generasi Qur’ani Menuju Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera”. Forum pelatihan guru ngaji ini merupakan ruang peningkatan kapasitas para pendidik dan pembina Al-Qur’an agar tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi mampu menerjemahkannya dalam kehidupan masyarakat.
Muhammad Agung Tranajaya hadir bersama Muhdi Muhammad, serta Ketua DPD Hidayatullah Polman Ahmad Syahril. Kegiatan diinisiasi Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPW Hidayatullah Sulbar dengan dukungan PosDai, Muslimat Hidayatullah, BMH, dan YPCM.
Kepala Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPW Hidayatullah Sulbar, Taufik Malik, mengatakan forum tersebut diarahkan untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an sekaligus memperkuat penerapannya dalam kehidupan.
“Kegiatan ini menjadi wahana untuk mendapatkan ilmu Al-Qur’an yang membawa keberkahan ke dalam kehidupan sehari-hari,” kata Taufik.
Ketua DPW Hidayatullah Sulbar, Najamuddin, menempatkan Grand MBA sebagai instrumen penting pembinaan. “Grand MBA adalah DNA-nya Hidayatullah yang terus melakukan pembinaan dengan dasar Al-Qur’an untuk membina keluarga dan jamaahnya,” tegasnya.
Dalam konteks itu, Agung menekankan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an perlu dibangun dari dua arah, yakni, mendekatkan Al-Qur’an kepada masyarakat dan sekaligus mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an. Pola tersebut diharapkan membentuk lingkungan sosial yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman, bukan sekadar pengetahuan.
Dengan pendekatan itu, hasil daurah diharapkan berlanjut setelah peserta kembali ke keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat. Peran guru Al-Qur’an, dai, dan murabbi menjadi penting untuk memastikan pembinaan berjalan konsisten dan melahirkan generasi yang tumbuh dalam bimbingan Al-Qur’an. (Bash)
















