Jangan Biarkan Perbedaan Menghapus Persamaan
ADA masa ketika perbedaan pendapat cukup dibicarakan setelah pengajian. Sekarang, satu perbedaan kecil dapat berubah menjadi perdebatan pan...
ADA masa ketika perbedaan pendapat cukup dibicarakan setelah pengajian. Sekarang, satu perbedaan kecil dapat berubah menjadi perdebatan panjang di ruang digital, disaksikan orang yang bahkan tidak memahami persoalan awalnya.
Kita hidup dalam zaman ketika setiap orang memiliki mikrofon. Pendapat dapat disampaikan kapan saja, kepada siapa saja, dan disebarkan dalam hitungan detik. Masalahnya, kemampuan berbicara berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan menahan diri.
Dalam kehidupan umat, perbedaan bukan sesuatu yang baru. Para ulama sepanjang sejarah memiliki perbedaan dalam banyak persoalan fikih dan pemikiran. Namun perbedaan itu tidak selalu membuat mereka kehilangan penghormatan terhadap sesama.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pendapat berubah menjadi penilaian terhadap harga diri seseorang.
Ukhuwah bukan berarti semua Muslim harus berpikir dengan cara yang sama. Ukhuwah justru diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda pilihan, pendekatan, atau pendapat.
Selama persoalannya berada dalam ruang ijtihad dan perbedaan yang dapat diterima, kedewasaan umat tampak dari kemampuan menjaga lisan dan hati.
Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Ayat tersebut tidak mensyaratkan persaudaraan hanya berlaku ketika semua orang sepakat. Persaudaraan justru menjadi dasar untuk menyelesaikan perselisihan.
Dalam konteks dakwah, hal ini amat penting. Umat membutuhkan energi untuk membangun pendidikan, menguatkan keluarga, membantu masyarakat lemah, mendampingi pemuda, dan menjawab berbagai tantangan zaman.
Energi itu akan cepat habis apabila terlalu banyak digunakan untuk mempertajam konflik internal. Bukan berarti semua perbedaan harus didiamkan.
Koreksi tetap diperlukan. Ilmu tetap harus dijaga. Kekeliruan tetap boleh diluruskan. Tetapi cara menyampaikan koreksi menentukan apakah sebuah perbedaan menjadi pintu perbaikan atau justru menjadi sumber permusuhan.
Karena itu, menjaga ukhuwah membutuhkan latihan batin. Kita perlu belajar membedakan antara membela prinsip dan membela ego. Antara meluruskan kekeliruan dan memenangkan perdebatan. Antara keberanian berkata benar dan kegemaran mempermalukan.
Dakwah yang matang bukan hanya pandai menjelaskan mengapa pendapatnya benar. Ia juga tahu bagaimana tetap menghormati manusia ketika perbedaan belum menemukan titik temu.
Umat terlalu besar untuk dipersempit oleh perbedaan. Dan, dakwah terlalu mulia untuk dijadikan alasan saling merendahkan.[]
















