Mengapa Kita Semakin Gelisah? - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

22 September 2026

Mengapa Kita Semakin Gelisah?

DI KOTA kota besar, semakin banyak orang berbicara tentang kecemasan, burnout, overthinking, dan kelelahan mental. Kita hidup di era yang s...

DI KOTA
kota besar, semakin banyak orang berbicara tentang kecemasan, burnout, overthinking, dan kelelahan mental. Kita hidup di era yang sangat terkoneksi, tetapi ironisnya banyak orang merasa kesepian.

Kita memiliki ribuan kontak di ponsel, tetapi tidak selalu memiliki tempat berbagi kegelisahan yang sesungguhnya.

Kita bisa mengetahui kabar dari seluruh dunia dalam hitungan detik, tetapi sering kali kehilangan ketenangan di dalam hati sendiri.

Fenomena ini dalam perspektif psikologi modern sering disebut sebagai spiritual loneliness atau kesepian spiritual.

Secara fisik kita tidak sendiri. Secara digital kita terhubung. Tetapi, secara batin kita merasa kosong.

Banyak orang kemudian mencari solusi melalui berbagai cara. Ada yang mengejar hiburan tanpa henti. Ada yang menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial. Ada yang terus menambah target pencapaian hidup.

Namun anehnya, ketenangan yang dicari tetap terasa jauh.

Dalam Islam, hati manusia memang tidak dirancang untuk tenang hanya dengan pencapaian duniawi.

Hati membutuhkan makna. Hati membutuhkan tujuan. Hati membutuhkan hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Karena itu, salah satu terapi jiwa yang paling kuat adalah keluar dari lingkaran diri sendiri dan mulai melihat kehidupan orang lain.

Sesekali, tidak ada salahnya kita mencoba menjejaki kisah tentang para dai yang bertugas di wilayah perbatasan dan pedalaman Indonesia.

Mereka hidup jauh dari kenyamanan. Akses transportasi terbatas. Fasilitas sederhana. Penghasilan tidak selalu besar.

Bahkan, sebagian harus berpisah cukup lama dari keluarga demi menjalankan amanah dakwah.

Secara logika modern, hidup mereka mungkin dianggap penuh keterbatasan. Namun yang menarik, banyak dari mereka justru memancarkan ketenangan yang luar biasa.

Mengapa? Karena hidup mereka dipenuhi makna. Mereka bangun pagi dengan tujuan yang jelas. Mereka melihat langsung manfaat dari setiap langkah yang dilakukan.

Mereka menyaksikan anak-anak belajar membaca Al-Qur'an. Mereka menemani mualaf mengenal Islam. Mereka membantu masyarakat menemukan harapan. Disinilah makna adalah salah satu sumber kesehatan mental yang paling kuat.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa individu yang hidup untuk tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri cenderung memiliki tingkat ketahanan psikologis yang lebih baik.

Islam telah mengajarkan hal itu sejak lama.

Ketika hidup digunakan untuk memberi manfaat, jiwa menjadi lebih sehat.

Ketika seseorang menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, hatinya ikut mendapatkan ketenangan.

Ada kebahagiaan yang unik ketika seseorang mengetahui bahwa sebagian rezekinya ikut membantu seorang guru mengaji bertahan di pedalaman.

Ada ketenangan tersendiri ketika seseorang menyadari bahwa kontribusinya ikut mengantarkan ilmu Islam ke wilayah yang membutuhkan.

Kadang obat bagi hati yang lelah bukanlah menerima lebih banyak, melainkan memberi lebih banyak.

Jika akhir-akhir ini hidup terasa penuh tekanan, cobalah melihat ke luar diri sendiri. Lihatlah mereka yang mengabdi tanpa banyak sorotan.

Lihatlah para dai yang terus berjalan di medan berat demi menjaga cahaya Islam. Dan mungkin, dengan ikut menjadi bagian dari perjuangan itu, kita tidak hanya membantu mereka.

Kita juga sedang menyembuhkan sebagian kegelisahan yang ada dalam diri kita sendiri.[]

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri