Ustadz Solihun Merangkul Anak Muda, Menyemai Cahaya Islam di Bintan - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

09 Oktober 2026

Ustadz Solihun Merangkul Anak Muda, Menyemai Cahaya Islam di Bintan

PAGI belum sepenuhnya meninggalkan kesunyian ketika sekelompok pengendara motor berkumpul di masjid. Jaket komunitas dikenakan, saf-saf mul...

PAGI
belum sepenuhnya meninggalkan kesunyian ketika sekelompok pengendara motor berkumpul di masjid. Jaket komunitas dikenakan, saf-saf mulai terisi, dan perjalanan yang biasanya identik dengan deru mesin kini diarahkan menuju ibadah. 

Di Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, pemandangan semacam ini menjadi bagian dari ikhtiar mendekatkan generasi muda kepada masjid. Di antara gerakan itu, Ustadz Solihun hadir sebagai dai yang merawat semangat kebersamaan melalui Bikers Subuhan Bintan.

Lahir di Banjarnegara pada 27 Agustus 1987, Solihun menempuh pendidikan di MI Muhammadiyah Purwanegara dan MTs Muhammadiyah Purwanegara, Banjarnegara, Jawa Tengah, sebelum melanjutkan ke SMA Mardisiswa Semarang. 

Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di STAIN Sultan Abdurrahman, Kepulauan Riau. Kini, ia tinggal di Kampung Toapaya, RT 01/RW 01, Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan. Bersama istrinya, Nani Khadijah, ia membesarkan empat anak: Abdul Aziz Arrantisi, Adelia Naufal, Nurin Manyun Kaisara, dan Amil Zada Albinsaid.

Sebagai guru sekaligus wiraswasta, Solihun menjalankan dakwah dengan mendekati kehidupan masyarakat, terutama kalangan muda. Kabupaten Bintan merupakan wilayah kepulauan dengan masyarakat yang banyak menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan. 

Dalam lingkungan sosial yang beragam, pembinaan keagamaan memerlukan pendekatan yang sabar, komunikatif, dan dekat dengan keseharian warga.

Gerakan Subuh Berjamaah menjadi salah satu ruang untuk menumbuhkan kebiasaan beribadah sekaligus memperkuat persaudaraan. Salah satu agendanya pada Ahad, 12 April 2026, di Surau Nurul Yaqin, Kilometer 27, Toapaya Asri. Masjid At-Taubah, Kilometer 18, Mantrust, sebagai titik kegiatan berikutnya. Melalui perjumpaan seperti ini, dakwah hadir bukan semata sebagai nasihat, melainkan sebagai ikhtiar membangun kebersamaan dan kepedulian.

Butuh Armadan Dakwah


Akan tetapi, jangkauan pengabdian bergantung pula pada ketersediaan sarana. Bagi Solihun, sepeda motor merupakan kendaraan utama untuk mendatangi lokasi pembinaan dan mempercepat mobilitas dakwah. 

Kendaraan operasional yang layak dibutuhkan agar pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung lebih efektif dan berkesinambungan.

Dakwah dapat bertumbuh dari langkah sederhana. Solihun terys membersamau anak muda. Mengajak anak muda ke masjid, menjaga pertemuan tetap hidup, dan mendampingi masyarakat secara konsisten. 

Di balik ikhtiar itu, terdapat kebutuhan nyata yang dapat dijawab melalui kepedulian bersama. Program Sahabat Dai yang digulirkan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) membuka ruang bagi masyarakat untuk turut menguatkan pengabdian para dai, daiyah, dan guru ngaji di berbagai pelosok negeri. 

Dukungan terhadap program ini bukan sekadar membantu kebutuhan operasional, melainkan juga menjaga agar pembinaan umat tetap menjangkau masyarakat yang membutuhkan. 

Ketika lebih banyak orang mengambil bagian, keterbatasan seorang dai dapat diringankan, sementara manfaat dakwah berpeluang menjangkau lebih banyak kehidupan.

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri