Pulang ke Tanah Hidayah, Fatur Zandroto Menghidupkan Dakwah di Pulau Nias
ANGIN laut Kepulauan Nias seolah membawa kembali kenangan masa kecil Fatur Rahman Zandroto. Di tanah yang dahulu menjadi saksi perjalanan k...
ANGIN laut Kepulauan Nias seolah membawa kembali kenangan masa kecil Fatur Rahman Zandroto. Di tanah yang dahulu menjadi saksi perjalanan keluarganya mengenal Islam, ia kini kembali bukan sekadar sebagai anak kampung halaman, melainkan seorang dai yang mengemban amanah membina masyarakat.
Pada Jumat, 10 Januari 2025, Fatur menerima penugasan dakwah di Pulau Nias setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan dan pembinaan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan. Kepulangannya menjadi perjalanan istimewa, sebab, ia kembali ke tempat pertama kali ia menemukan cahaya hidayah untuk meneruskan cahaya itu kepada orang lain.
Dai yang masih terbilang muda berusia 32 tahun ini berasal dari Desa Fowa, Gunungsitoli Idanoi. Ia lahir di Tetehosi, Pulau Nias, dan tumbuh dalam keluarga yang kemudian mengenal Islam ketika dirinya masih berusia sekitar 5 tahun.
Bersama ibu, kakak, dan adiknya, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas memiliki keyakinan berbeda. Peristiwa tersebut menjadi titik balik kehidupannya.
Keinginan mendalami Islam terus tumbuh hingga akhirnya ia bertemu seorang dai Hidayatullah yang bertugas di Nias. Atas persetujuan orang tua dan kemauan sendiri, ia kemudian menjadi santri di Pesantren Hidayatullah Nias.
Dari lingkungan pesantren itulah perjalanan pendidikannya berlanjut ke Hidayatullah Medan. Selama bertahun-tahun ia ditempa dalam pendidikan agama, pembinaan karakter, dan penguatan visi dakwah hingga menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu.
Ketika amanah untuk kembali ke Nias datang, ia menerimanya dengan kesadaran bahwa ilmu dan pengalaman yang diperoleh harus menemukan manfaat di tengah masyarakat.
Mengabdi di Kampung
Keputusan pulang ke kampung halaman bukan tanpa pertimbangan. Sebagian warga bahkan mempertanyakan pilihannya. Mereka beranggapan bahwa peluang kehidupan di Medan jauh lebih menjanjikan dibandingkan Nias.
Ada juga yang menyampaikan bahwa ia berpeluang menjadi guru besar dengan penghasilan lebih baik apabila bertahan di kota. Namun Fatur memilih menjawab keraguan itu dengan senyuman. Baginya, pengabdian tidak semestinya diukur dari besarnya penghasilan atau kenyamanan tempat bertugas.
Realitas dakwah yang dihadapinya memang tidak sederhana. Kampung mualaf tempat ia mengabdi memiliki keterbatasan tenaga pengajar agama. Masjid di ujung permukiman belum sepenuhnya hidup, sementara kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Islam sangat besar.
Karena itu, langkah awal yang ditempuhnya adalah membenahi pendidikan pesantren, memperkuat hubungan dengan pemerintah setempat, serta membangun kepercayaan masyarakat. Perlahan, minat keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya meningkat. Bahkan, sejumlah anak yatim, piatu, dan keluarga mualaf memperoleh pembiayaan pendidikan penuh dari pesantren sesuai kemampuan lembaga.
Pengabdian tersebut kemudian meluas ke tengah masyarakat. Setelah kurang lebih satu tahun, masjid, musala, dan rumah-rumah warga mulai menjadi tempat penyelenggaraan pengajian dan Taman Pendidikan Al-Qur’an.
Setiap sore, anak-anak mualaf belajar mengeja huruf hijaiyah dan membaca Iqra. Fatur bersama istrinya membimbing mereka dengan kesabaran, termasuk menyampaikan kisah keteladanan Rasulullah menggunakan bahasa daerah Nias agar lebih mudah dipahami.
Pada malam hari, pembinaan berlanjut kepada orang tua. Materinya tidak hanya berkisar pada tata cara salat dan bersuci, tetapi juga menyentuh persoalan kehidupan sehari-hari. Ia berupaya menanamkan pemahaman bahwa menjadi muslim tidak berarti harus meninggalkan identitas sebagai orang Nias yang menjunjung tinggi adat, persaudaraan, dan kerukunan.
Salah satu kekuatan dakwah Fatur terletak pada kemampuannya menggunakan bahasa masyarakat setempat. Jadwal khutbah dan ceramah semakin bertambah, bahkan beberapa kali berlangsung bersamaan sehingga harus ada agenda yang dikorbankan.
Ketika ditanya mengapa masyarakat begitu antusias, salah seorang jamaah menjawab bahwa mereka menyukai ceramahnya karena disampaikan menggunakan bahasa Nias. Sebab, masih banyak warga yang belum sepenuhnya memahami bahasa Indonesia.
Terus Melangkah dalam Perjuangan Dakwah
Di balik perkembangan tersebut, kehidupan keluarga tetap membutuhkan perjuangan. Fatur bersama istrinya membesarkan empat orang anak yang masih kecil, dengan usia anak tertua baru 8 tahun. Ibu kandungnya juga turut tinggal bersama mereka di lingkungan pesantren.
Kebutuhan rumah tangga selama ini terbantu oleh kepedulian masyarakat dan penghasilan dari jadwal khutbah maupun ceramah. Sementara itu, honorarium pesantren bergantung pada pencairan dana BOS setiap enam bulan, dengan nominal yang sangat terbatas. Meski demikian, ia tetap mensyukuri setiap rezeki yang diterima.
Kini, tantangan baru muncul. Selama lima bulan terakhir, kegiatan pengajian dan pembelajaran rutin di Masjid Mualaf Al-Hidayah tidak dapat berjalan maksimal karena kendaraan operasional yang biasa digunakan kerap mengalami kerusakan. Perbaikannya terkadang membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, bergantung pada ketersediaan biaya.
Karena itu, kebutuhan sepeda motor operasional menjadi sangat penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan masyarakat. Melalui Program Sahabat Dai yang digulirkan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), masyarakat memiliki kesempatan untuk ikut menopang perjuangan para dai, daiyah, dan guru ngaji yang mengabdi di wilayah terpencil.
Dukungan terhadap program ini dapat menjadi jalan untuk membantu Fatur kembali menjangkau jamaah, menghidupkan pengajian, dan mendampingi anak-anak mualaf belajar Al-Qur’an secara berkelanjutan.
Kisah Fatur mengajarkan bahwa hidayah bukan hanya anugerah yang patut disyukuri, melainkan amanah yang perlu diteruskan. Ia pernah menemukan Islam melalui sentuhan seorang dai. Kini, ia memilih menjadi bagian dari orang-orang yang menghadirkan sentuhan serupa bagi masyarakat di tanah kelahirannya. (ybh/pos)


















