Ustadz Rifaul Mujahidin, Putra Madura yang Teguh Mengabdi di Pedalamam Agam - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

Selasa, 12 April 2022

Ustadz Rifaul Mujahidin, Putra Madura yang Teguh Mengabdi di Pedalamam Agam

Ust Rifaul Mujahidin dengan motor pinjaman menyeberangi jembatan untuk menuju ke salah satu titik binaan (Foto: Istimewa/ Posdai) KABUPATEN ...

Ust Rifaul Mujahidin dengan motor pinjaman menyeberangi jembatan untuk menuju ke salah satu titik binaan (Foto: Istimewa/ Posdai)

KABUPATEN AGAM - "Rifaul Mujahidin, asal Madura, tempat tugas .... di Sumatera Barat," suara itu sangat lantang terdengar yang dibacakan di atas mimbar dalam acara wisuda dan penugasan sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Lukman Hakim Surabaya di Kampus Ponpes Hidayatullah Surabaya, Jatim, awal September tahun 2019. 

Pembacaan Surat Keputusan (SK) DPP Hidayatullah tentang penugasan dakwah wisudawan STAIL Surabaya itu sontak saja bikin pemilik nama yang disebut berdebar debar. 

"SK menetapkan bahwa saya bertugas di Sumbar dan sayapun berangkat ke tempat tugas dimana saya sama sekali belum ada gambar tentang tempat tugas itu," lkata Rifaul yang berkisah kepada media center Posdai dalam obrolan gawai beberapa waktu lalu. 

Ya, penugasan ke Sumbar ini sekaligus menjadi perngalaman pertama Rifaul menginjakkan kaki di tanah Ranah Minang ini. Sempat ada rasa ragu dan cemas, namun ia berusaha menepikan segala persangkaan itu. 

Baginya, dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk menyampaikan, demi menegakkan kalimat tauhid Laa ilaha ilallah di muka bumi. Itulah prinsip yang tertanam dalam hati seorang Rifaul Mujahidin, seorang dai mengabdi yang berdakwah tanpa pamrih dengan segala keterbatasannya.

"Panggilan hati dalam dakwah merupakan manifestasi iman dan amal seseorang, setelah ia bisa beriman dengan baik maka tahap selanjutnya adalah ia bisa beramal dengan baik," kata Rifaul.

Dia mengungkapkan, dampak dari iman dan amal inilah yang melahirkan kerisauan terhadap saudara-saudara seiman yang masih jauh dari Allah agar bisa sama-sama merasakan hakikat nikmatnya berislam. "Itulah dakwah," tegasnya. 

Tinggalkan Kampung Halaman

Ustaz muda yang murah senyum ini berdarah Madura. Dia lahir dan tumbuh di Pulau Sapeken yang terletak di Desa Sapeken, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Memiliki nama lengkap Rifaul Mujahidin, lelaki yang karib disapa Ust. Rifaul ini merupakan sarjana komunikasi yang berhasil menuntaskan studinya dengan predikat memuaskan. 

Sebagai sarjana muda, apalagi dengan kapasitas lebih dari lainnya yang dimilikinya, Rifaul bisa saja memilih tinggal di kota besar dan bekerja dengan gaji tetap yang amat memadai. Namun, tekadnya untuk dakwah telah bulat. Ia pun rela meninggalkan tanah dan kampung kelahirannya untuk sebuah misi suci.

Dari tanah Jawa, Rifaul pun berangkat ke tempat tugas. Dari Surabaya, dia ke Sumbar tepatnya Kepulauan Mentawai. Ia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam membelah lautan dari kota Padang.  

"Pertama kali tiba di Mentawai saya tercengang karena begitu banyaknya gereja yang saya lihat. Dan, ternyata, di Mentawai memang mayoritas Nasrani. Sedangkan masjid sangat sedikit," imbuhnya. 

Ust Rifaul Mujahidin (baju orange) berbaur dengan santri didikanya di salah satu titik binaan di pedalaman Agam (Foto: Istimewa/ Posdai)

Dengan kondisi yang sedemikian unik itu, tentu pergerakan dakwah Ust Rifaul tidaklah mudah karena harus berpacu dengan misionaris yang pergerakannya lebih massif. 

Ustadz Rifaul mengaku selama setahun lebih bertugas di Mentawai banyak kejadian yang membuat dirinya tercengang dan cukup prihatin. Dia menceritakan acapkali berkunjung di satu desa di pulau Siberut tempatnya di Sirilogui, Siberut Utara, dan berbincang langsung dengan kepala desa.

"Di desa Sirilogui dimana disitu ada 3 dusun dan kurang lebih ada 600-an KK, yang muslim hanya 8 KK saja," katanya seraya menambahkan penduduk di Siberut Utara ada sekitar 1.226 jiwa. 

Kepada Ust Rifaul, kepala desa bercerita bahwa dulu dikala ia masih kecil di desa ini penduduknya mayoritas muslim. Namun, setelah dai yang mengajarkan Islam kepada warga setempat pergi atau selesai tugas, misionaris pun masuk. Sehingga kini, kata kepala desa, warganya banyak yang pindah agama (murtad).

"Di sisi lain, umumnya orang Mentawai tidak terlalu menganggap penting dalam urusan agama sehingga berganti agama itu dianggap hal yang biasa," katanya.

Aktifitas Dakwah

Ustadz Rifaul terus bergelut dengan kesibukan berdakwah mengajarkan Al Quran. Selain tetap secara reguler membina di pesisir kepulauan di kawasan itu, kini ia bertugas sebagai dai mengabdi di Kabupaten Agam. 

Amanahnya setiap hari ialah mengajarkan Al Quran dan berdakwah di berbagai titik, seperti pada pagi hari mengajar Al Quran di Mushalla Al Ghofur, Mushalla Nurul Huda, dan membina taklim di Mushalla Lubuk Ar Rau.

Sore hari hingga malam, Ustadz Rifaul menjalankan dakwah mengajar di beberapa lokasi seperti di Masjid Salman dan Rumah Qur'an,  Majlis Ta'lim lainnya di Ampe Nagari yang merupakan titik perbatasan Kabupaten Agam- Pasaman Sumatera Barat.

Acapkali harus berpindah dari satu titik dakwah ke titik binaan lainnya tentu membutuhkan tenaga. Tidak saja energi fisik yang terkuras, Ust Rifaul pun harus pintar pintar membagi waktu. Beruntung, ada motor yang bisa dipinjam sehingga tak harus selalu berjalan kaki. 

Namun, untuk memenuhi semua permintaan pembinaan umat, Ust Rifaul mengaku cukup kewalahan karena tiadanya alat lintas berupa motor untuk membantu mobilitasnya tersebut. 

"Terkadang memanfaatkan tumpangan kendaraan yang lewat untuk memenuhi panggilan dakwah," katanya. Kondisi tersebut kian terasa pelik karena daerah tempatnya mengabdi saat ini tidak ada sinyal seluler untuk dapat selalu terhubung dengan lainnya.  

"Terkadang yang repot adalah ketika memiliki jadwal kegiatan dakwah kemudian turun hujan. Tidak ada motor yang bisa kami pinjam. Mau menginfokan kalau tidak bisa hadir pun susah sebab jaringan telepon tidak ada," selorohnya berkisah. 

Ust Rifaul mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap pembinaan keagamaan di daerah itu amat tinggi. "Sebenarnya masih banyak tempat yang mau menjadi binaan, akan tetapi karena kendala fasilitas kendaraan yang kurang maka tidak bisa kami penuhi semua karena ditakutkan tidak maksimal dalam pelayanan kepada jamaah," ujarnya. 

Dia pun memohon doa, semoga dirinya diberikan kekuatan serta pertolongan untuk bisa tetap istiqomah dalam berdakwah untuk Indonesia yang Qur’ani, yang masyarakatnya menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup sehingga tercipta baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

"Dan kami berharap kepada Allah SWT memberikan taufik dan 'inayah Nya kepada hamba-hamba Nya yang selalu berjuang di ladang dakwah baik itu bersifat dukungan materi maupun non-materi," katanya menutup obrolan seraya berdoa. Aamiin. (ybh/hio)

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri