Sarana Dakwah dalam Jalan Pengabdian Dai Ustadz Nur Yahya Asa
USTADZ Nur Yahya Asa lahir di Cilacap pada 30 Maret 1971. Sejak awal perjalanan hidupnya, dakwah bukan sekadar peran yang dilakoninya sepen...
USTADZ Nur Yahya Asa lahir di Cilacap pada 30 Maret 1971. Sejak awal perjalanan hidupnya, dakwah bukan sekadar peran yang dilakoninya sepenuh hati, melainkan jalan panjang yang dijalani dengan kesetiaan.
Lebih dari tiga dekade, ia mengabdikan diri di berbagai wilayah Nusantara, berpindah dari satu medan dakwah ke medan lainnya. Dalam konteks inilah, bantuan armada dakwah dari Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) menjadi bagian penting yang menyambung jejak panjang pengabdian tersebut.
Perjalanan dakwah Nur Yahya Asa dimulai pada tahun 1993 di Aceh. Fase awal ini membentuk ketangguhan pribadi dan militansi dakwahnya. Masa masa ini adalah “sebuah fase awal yang membentuk keteguhan karakter dan militansi dakwahnya.
Mobilitas tinggi dan medan sosial yang kompleks menjadikan kehadiran dai bukan hanya soal pesan, tetapi juga soal keberanian untuk hadir. Armada dakwah dalam konteks ini menjadi sarana yang memungkinkan dakwah tetap bergerak menjangkau umat.
Penugasan berikutnya di Tanjung Balai Karimun (1999–2000) dan Pangkal Pinang (2000–2003) memperlihatkan bagaimana dakwah di wilayah kepulauan membutuhkan kesiapan fisik dan sarana pendukung. Di daerah-daerah ini, ia menegaskan perannya sebagai dai lapangan yang mampu membangun jejaring dakwah dan pembinaan umat.
Mobilitas antarwilayah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengabdian, dan armada dakwah menjadi alat untuk memastikan kehadiran dai tetap berkesinambungan.
Momentum kepemimpinan terjadi di Batam pada 2003–2004, saat ia dipercaya sebagai Ketua DPD Hidayatullah pertama. Amanah ini berlanjut di Tarakan pada 2004–2008. Di wilayah perbatasan, jarak dan akses menjadi tantangan tersendiri. Armada dakwah bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol keberlanjutan kehadiran dakwah di wilayah yang membutuhkan sentuhan langsung.
Pengabdian terpanjangnya berlangsung di Tanjung Selor pada 2008–2020. Ketika Provinsi Kalimantan Utara terbentuk pada 2012, Nur Yahya Asa dipercaya menjadi Ketua DPW Hidayatullah pertama.
Kepemimpinannya menjadi tonggak penting dalam konsolidasi gerakan dakwah regional. Dalam fase ini, dukungan sarana dakwah menjadi penting untuk menjaga ritme pembinaan lintas wilayah kabupaten.
Pada periode 2020–2025, ia kembali bertugas di Tarakan sebagai Dewan Murabbi Wilayah. Pengalaman panjangnya menjadikan ia rujukan bagi kader-kader muda. Hingga akhir November 2025, amanah kembali membawanya ke Lampung, menorehkan jejak langkah dakwah untuk membina ummat dengan hikmah dan menebarkan Islam yang rahmatan linnaas wa rahmatan lil ‘Aalamiin.
Dalam keseluruhan perjalanan ini, bantuan armada dakwah dari PosDai hadir sebagai penguat ikhtiar dakwah. Armada tersebut menjadi perpanjangan langkah dai yang telah terbiasa berjalan jauh demi umat. Jejak Nur Yahya Asa menunjukkan bahwa dakwah membutuhkan keberlanjutan gerak, dan setiap sarana yang mendukung mobilitas adalah bagian dari amanah itu sendiri.


















