PosDai Tuntun Ikrar Syahadat Julius Lungu yang Masuk Islam di Malinau
Sebuah peristiwa penuh makna terjadi di Kampus Peradaban Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau pada Ahad pagi (8/1/2026). Seorang pemuda ber...
Sebuah peristiwa penuh makna terjadi di Kampus Peradaban Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau pada Ahad pagi (8/1/2026). Seorang pemuda bernama Julius Lungu secara resmi menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat dalam suasana khidmat dan menggetarkan hati. Momen ini menjadi penanda awal perjalanan spiritual baru yang ia pilih dengan kesadaran penuh.
Julius Lungu, yang sebelumnya beragama Katholik dan berasal dari suku Kenyah dan Merap, mengikrarkan keislamannya di hadapan para ulama dan peserta kegiatan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara yang dirangkaikan dengan Tarhib Ramadhan.
Prosesi tersebut berlangsung di sela agenda yang dihadiri Ketua Dewan Pembina Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), Drs. Shohibul Anwar, M.H.I., yang juga bertindak langsung sebagai penuntun ikrar syahadat.
Keputusan Julius untuk memeluk Islam bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Ia menempuh perjalanan batin yang panjang, diwarnai pencarian, perenungan, dan dialog dengan hati nuraninya sendiri. Pilihan tersebut lahir dari keyakinan personal, tanpa paksaan, sebagai wujud kesungguhan untuk menata hidup berdasarkan ajaran Islam yang diyakininya membawa ketenangan dan arah baru.
Prosesi sakral itu turut disaksikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kaltara Ustadz M. Irsan Sulaiman, S.Pd.I. dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah Ustadz H. Jamirudin, S.Pd.I., yang hadir sebagai saksi sekaligus penguat ikrar. Di hadapan mereka, Julius Lungu melafalkan dua kalimat syahadat dengan suara mantap dan penuh penghayatan. Setiap lafaz yang terucap menjadi saksi perubahan besar dalam perjalanan hidupnya.
Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut. Para hadirin menyaksikan dengan penuh rasa syukur ketika Julius, dengan tenang dan lancar, menyelesaikan ikrar syahadatnya. Sejak saat itu, ia memilih nama baru, Muhammad Abdul Razak, sebagai identitas sekaligus doa agar kehidupannya ke depan senantiasa berada dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT.
Pihak Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau menyambut kehadiran Muhammad Abdul Razak dengan tangan terbuka. Lembaga ini menyatakan kesiapan untuk memberikan pendampingan keislaman secara berkelanjutan agar ia dapat mengenal, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam secara bertahap. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen dakwah yang mengedepankan pendekatan damai, penuh hikmah, serta menghargai proses spiritual setiap individu.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi momen personal bagi Muhammad Abdul Razak, tetapi juga cerminan wajah dakwah Islam yang humanis dan menyejukkan. Masuk Islamnya Julius Lungu menunjukkan bahwa hidayah hadir melalui proses batin yang jujur dan merdeka, serta tumbuh dalam suasana yang penuh penghormatan terhadap pilihan keyakinan.
Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar Hidayatullah berharap momen ini menjadi langkah awal yang kokoh bagi Muhammad Abdul Razak dalam menapaki jalan iman. Perjalanan barunya diharapkan membawa keteguhan, ketenangan, dan keberanian untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna sesuai tuntunan Islam.[]
















