Jalan Panjang Dakwah Julius Hidayat Pratama di Tanah Bengkulu
LANGIT pagi di Kabupaten Bengkulu Selatan pernah menjadi saksi langkah seorang pemuda yang datang membawa tekad mencari tempat untuk menana...
LANGIT pagi di Kabupaten Bengkulu Selatan pernah menjadi saksi langkah seorang pemuda yang datang membawa tekad mencari tempat untuk menanam jejak dakwah. Ia datang bukan dengan bangunan megah atau fasilitas memadai, melainkan dengan keyakinan yang tumbuh sejak masa sekolah. Pemuda itu bernama Julius Hidayat Pratama.
Julius lahir di Pungguk Meranti, Kabupaten Kepahiang, pada 8 Juli 1997. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan Hidayatullah dan menamatkan pendidikan di SMA Hidayatullah. Dari ruang-ruang pembinaan itulah arah perjuangannya terbentuk.
Bersama sahabat-sahabat seperjuangan, ia menjalani hari-hari yang dipenuhi proses belajar, kedisiplinan, dan penguatan nilai dakwah. Salah satu nama yang masih diingatnya hingga kini adalah Ahmad Maulana, rekan satu angkatan yang menemani perjalanan masa pendidikan itu.
“Di masa pendidikan itulah kami ditempa bersama. Kebersamaan dalam menuntut ilmu dan menjalani pembinaan menjadi bagian penting yang membentuk semangat juang serta kecintaan kami terhadap dakwah,” ujar Julius.
Pada 2016, perjalanan pengabdian itu dimulai lebih jauh. Julius mendapat amanah untuk merintis cabang dakwah Hidayatullah di Kabupaten Bengkulu Selatan. Ia datang ke daerah itu membawa tugas yang tidak ringan. Selama kurang lebih satu tahun, ia berkeliling mencari lokasi yang layak untuk dijadikan tanah wakaf pembangunan pondok.
Hari-hari panjang dijalaninya dengan menyusuri berbagai tempat dan menemui banyak orang. Penolakan datang silih berganti. Keterbatasan menjadi kenyataan yang harus diterima. Ketidakpastian menyertai hampir setiap langkah yang diambil. Namun perjalanan itu terus berjalan.
“Selama kurang lebih satu tahun, saya berjuang mencari lokasi yang layak untuk pembangunan pondok. Menyusuri berbagai tempat, menghadapi penolakan, keterbatasan, dan ketidakpastian menjadi bagian dari proses itu,” katanya.
Di tengah keadaan yang serba terbatas itu, sebuah titik terang datang. Julius dan rekan-rekannya menerima hibah tanah dari seorang hamba Allah seluas 3000 meter persegi. Tanah itu kemudian menjadi awal berdirinya perjuangan dakwah di wilayah tersebut.
“Kami dikaruniakan hibah tanah seluas 3000 meter persegi. Itu menjadi tonggak awal berdirinya perjuangan dakwah di daerah ini,” ujar Julius.
Perjalanan pengabdian itu terus berlangsung. Selama kurang lebih 10 tahun bertugas di Hidayatullah, Julius mengaku telah menghadapi banyak ujian dan rintangan. Halangan demi halangan hadir bersamaan dengan kelelahan fisik dan mental yang harus dijalani dalam tugas dakwah di lapangan.
Namun perjalanan panjang itu tidak menghentikan langkahnya. Saat ini, sesuai amanah dan aturan organisasi, Julius dipindah tugaskan ke Kabupaten Bengkulu Tengah dengan tanggung jawab baru. Penugasan itu menjadi babak lanjutan dari perjalanan yang telah ia jalani sejak 2016.
Di tengah perjalanan yang panjang itu, Julius menyebut kisah perjuangan para dai di berbagai pelosok negeri menjadi sumber semangat yang terus menguatkan langkahnya.
"Dakwah merupakan panggilan hidup yang dijalani dengan pengabdian, kesabaran, dan harapan agar setiap langkah kecil yang ditempuh menjadi amal jariyah yang terus mengalir," katanya, mengungkapkan mottonya dalam dakwah. (ams/pos)




















