Kisah Ustadz Jumardi Sukma Menanam Cahaya Dakwah dari Hutan Pulau Bunyu - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

17 Mei 2026

Kisah Ustadz Jumardi Sukma Menanam Cahaya Dakwah dari Hutan Pulau Bunyu

TAHUN 2007 menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang bagi Jumardi Sukma, seorang pemuda yang memilih hidup di jalan dakwah. Amanah itu d...

TAHUN
2007 menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang bagi Jumardi Sukma, seorang pemuda yang memilih hidup di jalan dakwah. Amanah itu datang tidak lama setelah ia mengikuti pernikahan mubarak delapan pasangan di Pondok Pesantren Hidayatullah Bulungan, Kalimantan Utara. Di saat banyak orang kembali menjalani kehidupan seperti biasa, ia justru menerima tugas besar: merintis Pondok Pesantren Hidayatullah di Pulau Bunyu. 

Pulau Bunyu berada di sebelah utara Pulau Kalimantan. Pada masa itu wilayah tersebut masih termasuk Provinsi Kalimantan Timur. Di pulau kecil itu telah tersedia sebidang tanah wakaf yang masih berupa hutan lebat. Tanah tersebut diniatkan menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam. Tidak ada bangunan megah, tidak ada fasilitas memadai, hanya hamparan pepohonan yang sunyi. Namun di tempat itulah cita-cita besar mulai ditanam. 

Setahun setelah amanah itu diterima, Jumardi muda—yang kemudian dikenal sebagai Ustadz Jumardi—mulai tinggal di lokasi tersebut bersama istri dan seorang bayi yang masih digendong. Sebelum benar-benar menetap di lahan wakaf, mereka sempat tinggal menumpang di rumah keluarga sambil perlahan membangun hubungan dengan masyarakat sekitar. 

Dari rumah sederhana itu, benih dakwah mulai disemai melalui pengajaran Al-Qur’an kepada anak-anak dan majelis taklim kecil untuk warga setempat. 

Ketika akhirnya mereka menempati area wakaf tersebut, kehidupan yang dihadapi jauh dari nyaman. Tidak ada listrik, tidak ada tetangga, dan suasana sekitar dipenuhi hutan yang sunyi. Namun justru di tengah keterasingan itu, Ustadz Jumardi memendam harapan besar untuk melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an.

Langkah awal yang ia lakukan adalah membangun masjid di tengah kawasan hutan. Ide itu sempat dianggap mustahil oleh sebagian orang. Ia bahkan sering mendengar kalimat bernada sinis, “Siapa yang akan shalat di masjid di tengah hutan?” Namun keraguan orang lain tidak membuatnya mundur. 

Ia percaya bahwa perjuangan di jalan Allah tidak pernah sia-sia. Dengan kesabaran dan keyakinan, ia terus berikhtiar hingga akhirnya bantuan datang dari pemerintah dan swadaya masyarakat binaan. Sedikit demi sedikit, masjid yang dahulu hanya mimpi mulai berdiri nyata. 

Di balik perjuangan dakwah itu, kehidupan keluarga tetap harus berjalan. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ustadz Jumardi beternak ayam dan menanam sayur-mayur di sekitar pesantren. Hasil panennya dibawa ke pasar Pulau Bunyu untuk dijual. Dari aktivitas sederhana itu, dai kelahiran tahun 1984 tersebut mulai dikenal oleh para pedagang pasar setempat. 

Waktu berlalu. Pada tahun 2013, kawasan sekitar pesantren mulai dipadati warga yang membangun rumah. Melihat peluang dakwah yang semakin luas, Ustadz Jumardi bersama istrinya yang berlatar belakang pendidikan guru PAUD mendirikan TK Yaa Bunayya. Lembaga itu menjadi amal usaha pendidikan pertama di Pesantren Hidayatullah Pulau Bunyu. Selama dua tahun, mereka mendidik anak-anak usia dini dengan nilai-nilai Islam dan akhlak mulia. 

Namun perjuangan dakwah tidak selalu berjalan mulus. Tahun 2014 menjadi masa yang berat. Saat membersihkan lahan pesantren menggunakan mesin pemotong rumput, pisau mesin tersebut tiba-tiba patah dan menghantam kakinya hingga menyebabkan tulang patah. Cedera itu meninggalkan rasa sakit yang masih dirasakan hingga hari ini. Meski demikian, luka tersebut tidak memadamkan langkah pengabdiannya. 

Pada tahun 2015, amanah baru kembali datang. Ia ditugaskan berdakwah di Kota Tarakan, pulau yang berjarak sekitar satu jam perjalanan menggunakan speedboat dari Pulau Bunyu. Medan dakwah di Tarakan berbeda dengan sebelumnya. Jika dulu ia banyak menghadapi masyarakat pedesaan, kini ia harus berinteraksi dengan kehidupan masyarakat perkotaan yang lebih dinamis. 

Di kota itu, ia aktif membuka majelis taklim, mengajarkan aqidah, fiqih, dan sirah Nabawiyah. Dakwahnya menjangkau banyak kalangan, mulai dari masyarakat umum, jamaah masjid, hingga prajurit TNI AU. Ia juga rutin mengisi kajian di Masjid Asrama Polisi serta memberikan pembinaan keagamaan di berbagai kantor pemerintah dan swasta. Semua itu dijalani selama enam tahun dengan penuh ketulusan. 


Kemudian pada tahun 2021, ia kembali menerima amanah dakwah di Tanjung Selor, ibu kota Provinsi Kalimantan Utara. Meski berstatus ibu kota provinsi, masih banyak wilayah di sekitarnya yang tergolong pelosok. Di tempat-tempat itulah ia terus keluar masuk desa, membina masyarakat transmigrasi muslim, dan menghidupkan majelis ilmu. 

Di balik semua aktivitas itu, ada satu kenyataan yang terus menemaninya: sepeda motor tua yang dipakai berdakwah sudah jauh dari layak. Kendaraan itu sering rusak di tengah perjalanan dan berulang kali keluar masuk bengkel. Namun motor itulah yang setia membawanya melintasi jalan panjang demi menyampaikan risalah Islam ke berbagai penjuru. 

Kiprah pengabdian para dai terutama di pedalaman dan terpencil seperti dilakoni Ustadz Jumardi adalah gambaran tentang keteguhan yang lahir dari keyakinan. Bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari tempat nyaman, tetapi sering tumbuh dari hutan sunyi, luka, keterbatasan, dan perjalanan panjang yang dijalani dengan kesabaran. (ybh/pos)

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri