Ustadz Gilang Herlangga Menembus Pedalaman demi Menyalakan Cahaya Al-Qur’an - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

17 Mei 2026

Ustadz Gilang Herlangga Menembus Pedalaman demi Menyalakan Cahaya Al-Qur’an

DI SEBUAH wilayah pedalaman Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, ada langkah kecil yang terus ...

DI SEBUAH
wilayah pedalaman Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, ada langkah kecil yang terus bergerak membawa cahaya Islam ke tengah masyarakat. Langkah itu dijalani oleh Ustadz Gilang Herlangga, S.Sos., seorang dai muda yang memilih meninggalkan kenyamanan kampung halaman demi menjalankan amanah dakwah di daerah terpencil.

Lahir di Palembang pada 10 Oktober 1994, Gilang Herlangga tumbuh dari keluarga sederhana pasangan Bapak Agus Abadi dan Ibu Amelya Destika. Sejak muda, ia menanamkan keyakinan bahwa hidup tidak hanya tentang mengejar kepentingan pribadi, tetapi juga tentang memberi manfaat bagi umat. Keyakinan itulah yang kemudian membawanya memilih jalan pengabdian bersama dakwah Islam.

Keputusan itu tidak datang tanpa pengorbanan. Saat menerima amanah dakwah di Sulawesi Utara, ia tidak berangkat sendirian. Bersama istri tercinta dan dua putrinya yang masih kecil, ia meninggalkan Palembang menuju Kota Bitung dengan perjalanan panjang yang menguras tenaga dan kesabaran. Jalur darat dan laut harus ditempuh selama kurang lebih 9 hari 9 malam.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Itu adalah simbol keteguhan hati seorang dai yang rela melintasi jarak ribuan kilometer demi menyampaikan risalah Islam di wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Di tengah perjalanan panjang itu, ada harapan yang terus dibawa: agar dakwah tetap hidup di pelosok negeri.

Kini, amanah itu dijalankannya di Pondok Pesantren Hidayatullah Adow, Kecamatan Pinolosian Tengah. Di tempat sederhana itu, Ustadz Gilang menghabiskan hari-harinya bersama para santri dan masyarakat sekitar. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pendamping, pembina, sekaligus penguat semangat bagi warga yang membutuhkan sentuhan dakwah dan pendidikan Islam.

Aktivitas hariannya dipenuhi dengan pengabdian. Ia mengajarkan Al-Qur’an kepada santri dan anak-anak desa, membina majelis taklim masyarakat, menjadi khatib dan penceramah dalam kegiatan keagamaan, hingga mendampingi generasi muda agar tumbuh dengan iman, ilmu, dan akhlak mulia. Semua dilakukan dengan kesungguhan, meski berada dalam berbagai keterbatasan.

Medan dakwah di pedalaman bukanlah ruang yang mudah dijalani. Infrastruktur yang terbatas menjadi tantangan besar dalam menjangkau masyarakat di desa-desa sekitar. Hingga hari ini, belum adanya kendaraan operasional menjadi hambatan utama dalam aktivitas dakwah. Untuk menghadiri pengajian, membina masyarakat, atau mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak desa, ia sering harus menempuh perjalanan dengan penuh kesabaran dan perjuangan.

Namun keterbatasan itu tidak pernah membuat langkahnya berhenti. Di tengah kondisi yang serba sederhana, semangat dakwah justru semakin tumbuh. Bersama para santri Pondok Pesantren Hidayatullah Adow, ia terus menjaga agar cahaya Al-Qur’an tetap menyala di wilayah pedalaman.


Ada keteguhan yang terasa dalam perjalanan hidupnya. Dakwah baginya merupakan panggilan jiwa yang menuntut pengorbanan. Tidak semua orang sanggup meninggalkan kampung halaman, membawa keluarga kecil menempuh perjalanan panjang lintas pulau, lalu hidup di daerah terpencil demi membina umat. Tetapi jalan itulah yang dipilih Ustadz Gilang dengan penuh keyakinan.

Dakwah di negeri ini masih ditopang oleh orang-orang yang rela berjalan jauh tanpa banyak sorotan. Mereka hadir di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian, menghidupkan majelis ilmu, mengajarkan huruf-huruf Al-Qur’an kepada anak-anak desa, dan menjaga agar nilai-nilai Islam tetap tumbuh di tengah masyarakat.

Di saat banyak orang mengukur keberhasilan dari kenyamanan hidup, perjalanan seorang dai pedalaman justru memperlihatkan makna pengabdian yang sesungguhnya. Bahwa ada kebahagiaan yang lahir dari melihat anak-anak mampu membaca Al-Qur’an, masyarakat semakin dekat dengan masjid, dan generasi muda tumbuh dengan akhlak yang baik.

Perjuangan seperti inilah yang diam-diam menjaga nyala Islam di berbagai penjuru Nusantara. Dan, selama masih ada orang-orang yang rela mengabdikan hidupnya seperti Ustadz Gilang Herlangga, harapan bagi masa depan dakwah akan tetap menyala. (din/pos)

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri