Titian Jalan Dakwah Ustadz Suardin Zalukhu dari Pulau Nias hingga Bangka Belitung - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

16 Mei 2026

Titian Jalan Dakwah Ustadz Suardin Zalukhu dari Pulau Nias hingga Bangka Belitung

ADA orang yang memilih hidup untuk mengejar kenyamanan. Ada pula yang memutuskan berjalan di jalan sunyi pengabdian, meninggalkan kemudahan...

ADA
orang yang memilih hidup untuk mengejar kenyamanan. Ada pula yang memutuskan berjalan di jalan sunyi pengabdian, meninggalkan kemudahan demi menyampaikan cahaya dakwah ke berbagai penjuru negeri. Di antara mereka, ada nama Suardin Zalukhu, yang kemudian dikenal dengan nama hijrah Muhammad Taufik Ismail Zalukhu. 

Lahir di Pulau Nias pada 21 Juni 1985, Suardin Zalukhu tumbuh menjadi sosok yang menjadikan dakwah jalan hidup yang dijalani sepenuhnya dengan kesungguhan.

Perjalanan itu dimulai pada tahun 2002 ketika ia pertama kali bergabung sebagai santri bersama Pondok Pesantren Hidayatullah di Pulau Nias. Di usia muda, ia telah memilih untuk berada di lingkungan yang membentuk jiwa pengabdian. 

Dari tanah kelahirannya itu, langkahnya berlanjut ke Pondok Pesantren Hidayatullah Medan pada tahun 2003 hingga 2005. Masa-masa tersebut menjadi fase penting dalam membangun karakter, memperdalam ilmu, sekaligus memahami bahwa perjuangan dakwah membutuhkan kesabaran yang panjang.

Setelah menamatkan pendidikan SMA, ia kembali ditugaskan ke Hidayatullah Nias selama satu tahun. Kepulangan itu bukan sekadar kembali ke kampung halaman, melainkan bentuk pengabdian awal untuk tanah yang membesarkannya. 

Di daerah berjuluk Tano Niha itulah Suardin Zalukhu mulai memahami bahwa dakwah bukan hanya soal menyampaikan ceramah, tetapi hadir bersama masyarakat, merasakan denyut kehidupan mereka, dan belajar bertahan dalam keterbatasan.

Pada tahun 2007, amanah baru datang. Ia ditugaskan mengikuti program Kuliah Dai Mandiri (KDM) atau Tadribut Du’at diselenggarakan oleh Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) yang digelar intensif selama tiga bulan di Kampus Hidayatullah Cilodong, Kota Depok. Meski singkat, masa pendidikan tersebut menjadi bekal penting untuk menguatkan visi perjuangan dakwah. 

Selepas itu, perjalanan akademiknya berlanjut di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan dari tahun 2007 hingga 2011. Pendidikan tinggi itu berhasil ia selesaikan dengan baik, hingga akhirnya mencapai jenjang pendidikan terakhir S2.

Namun, perjalanan dakwah sejati justru dimulai setelah masa pendidikan selesai. Dari ruang-ruang kelas, ia turun langsung ke tengah masyarakat. Tahun 2011 hingga 2015, ia menerima amanah bertugas di Hidayatullah Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Di daerah itu, ia belajar bahwa dakwah memerlukan ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai kondisi sosial masyarakat.

Setelah menyelesaikan tugas di Kutai Timur, ia kembali melanjutkan pengabdian di Hidayatullah Kota Samarinda pada tahun 2015 hingga 2020. Lima tahun di ibu kota Kalimantan Timur itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya. Dari satu majelis ke majelis lain, dari satu lingkungan ke lingkungan berikutnya, ia terus menanamkan keyakinan bahwa dakwah harus dijalani dengan ketulusan dan kesabaran.

Kemudian, sejak tahun 2020 hingga sekarang, amanah dakwah membawanya ke wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Di daerah kepulauan itulah tantangan dakwah terasa semakin nyata. Bukan hanya persoalan jarak, tetapi juga medan geografis, kultur masyarakat, dan kondisi perjalanan yang tidak mudah. Untuk menjangkau satu tempat ke tempat lain, terkadang harus melewati daratan dan lautan sekaligus.

“Suka duka dalam perjalanan tugas dakwah khususnya di daerah kepulauan itu memiliki tantangan tersendiri dari sisi kultur, budaya, masyarakat, dan medan dakwah yang tidak mudah, harus mengarungi darat dan lautan karena memang kepulauan, kita harus pindah dari pulau yang satu ke pulau yang lain,” katanya.

Dakwah memang bukan pekerjaan ringan. Ada lelah yang tak selalu terlihat, ada rindu yang harus ditahan, dan ada pengorbanan yang sering kali tidak diketahui banyak orang. Namun, justru dari perjalanan panjang itulah keyakinannya semakin tumbuh kuat.

Keyakinan itu menjadi tenaga yang menjaga langkahnya tetap teguh hingga hari ini. Baginya, Hidayatullah merupakan wadah yang mengantar para santri seperti dirinya untuk menjadi bagian dari perjuangan dakwah Islam di berbagai wilayah Nusantara.

“Perjalanan panjang itu kemudian membuat kami semakin yakin bahwa pekerjaan dakwah ini adalah pekerjaan spesial yang disiapkan oleh Allah untuk hamba-Nya yang mau," ujarnya.

Kisah hidup Suardin Zalukhu memperlihatkan bahwa dakwah dibangun oleh orang-orang yang rela berjalan jauh, melintasi pulau demi pulau, demi menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat. Di balik perjalanan panjang itu, ada ketulusan yang terus hidup, bahwa setiap langkah pengabdian, sekecil apa pun, akan selalu bernilai di hadapan Allah.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba instan, kisah perjalanan dakwah para dai termasuk mereka yang mengabdi di pedalaman mengingatkan kita bahwa masih ada orang-orang yang memilih hidup untuk mengabdi. Mereka tidak selalu tampil di depan sorotan, tetapi diam-diam menjaga nyala dakwah agar tetap hidup di berbagai penjuru negeri. (din/hio)







Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri