Muhammad Ali Lingge dan Jejak Dakwah dari Flores hingga Tanah Papua - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

01 Mei 2026

Muhammad Ali Lingge dan Jejak Dakwah dari Flores hingga Tanah Papua

Muhammad Ali Lingge lahir di Tajo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 12 Juni 1984. Ia menempuh pendidikan strata satu di STIS Hiday...

Muhammad Ali Lingge lahir di Tajo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 12 Juni 1984. Ia menempuh pendidikan strata satu di STIS Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur. Masa perkuliahan menjadi fase penting yang membentuk arah perjuangannya. Di lingkungan kampus itulah ia menjalani proses pembinaan bersama para sahabat seperjuangan, menuntut ilmu, serta menanamkan kecintaan terhadap dakwah yang kemudian mengiringi langkah hidupnya hingga hari ini.

“Di masa perkuliahan inilah saya ditempa bersama sahabat-sahabat seperjuangan,” ujar Mohamad Ali Lingge. Ia menyebut kebersamaan dalam menuntut ilmu dan menjalani pembinaan menjadi bagian penting dalam membentuk semangat juang dan kecintaan terhadap dakwah.



Perjalanan pengabdian itu memasuki babak baru pada 2016 ketika ia mulai merintis cabang dakwah Hidayatullah di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Tugas tersebut dijalani dalam keterbatasan dan proses yang panjang. 

Selama kurang lebih satu tahun, ia berjuang mencari lokasi yang layak untuk dijadikan tanah wakaf pembangunan pondok. Berbagai tempat disusuri, banyak pihak ditemui, sementara penolakan, keterbatasan, dan ketidakpastian terus menyertai langkah perjuangannya.

Di tengah proses tersebut, perjuangan itu menemukan titik terang. Mohamad Ali Lingge bersama rekan-rekannya menerima hibah tanah dari seorang hamba Allah seluas 20.000 meter persegi. Lahan itu kemudian menjadi titik awal berdirinya perjuangan dakwah di wilayah Sorong Selatan.

“Selama kurang lebih satu tahun, saya berjuang mencari lokasi yang layak untuk dijadikan tanah wakaf pembangunan pondok,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa hibah tanah seluas 20.000 meter persegi tersebut menjadi tonggak awal berdirinya dakwah di daerah itu.

Selama kurang lebih 10 tahun bertugas di Hidayatullah, berbagai ujian dan tantangan telah dilaluinya. Kelelahan fisik dan mental menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Namun seluruh proses itu dijalani sebagai bagian dari pengabdian dalam dakwah.

Saat ini, sesuai amanah dan aturan organisasi, Mohamad Ali Lingge mendapat penugasan baru di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penugasan tersebut menjadi lanjutan perjalanan dakwah yang selama ini ia jalani di berbagai daerah.

“Saya memilih berdakwah di Hidayatullah karena memiliki manhaj yang jelas, lurus, dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah,” ujarnya. Ia juga menyebut kisah perjuangan para dai di berbagai pelosok negeri menjadi inspirasi yang terus menguatkan langkahnya dalam menjalani jalan dakwah sebagai panggilan hidup. (ams/pos)

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri