Muhammad Ihsan Mengabdi untuk Generasi Qur’ani di Pelosok Negeri
DI TENGAH laju kehidupan kota yang terus bergerak cepat, ada seorang pemuda yang memilih jalan berbeda. Saat banyak orang seusianya mengeja...
DI TENGAH laju kehidupan kota yang terus bergerak cepat, ada seorang pemuda yang memilih jalan berbeda. Saat banyak orang seusianya mengejar kenyamanan hidup dan masa depan pribadi, Muhammad Ihsan justru memutuskan mengabdikan dirinya untuk dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. Pemuda kelahiran Kutacane, Aceh Tenggara, tahun 2000 itu memilih menapaki jalan sunyi demi membina generasi penerus Islam.
Perjalanannya dimulai di Kota Medan. Dengan keyakinan yang kuat dan semangat dakwah yang tumbuh dalam dirinya, Muhammad Ihsan mulai mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka. Baginya, anak-anak bukan sekadar murid, melainkan calon penerus dakwah yang kelak akan memikul tanggung jawab peradaban umat.
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, ia menjalani hari-harinya dengan penuh kesabaran. Anak-anak yang datang belajar berasal dari berbagai latar belakang kehidupan. Ada yang tumbuh dalam keluarga sederhana, ada pula yang hidup di tengah berbagai keterbatasan. Namun di hadapan Al-Qur’an, semua bersatu dalam semangat yang sama: belajar dan mencari cahaya ilmu.
Selama tiga tahun menapaki jalan dakwah di Medan, Muhammad Ihsan terus menguatkan keyakinannya bahwa dakwah bukan sekadar ceramah, tetapi proses panjang membentuk manusia. Dari ruang-ruang belajar sederhana itulah ia memahami bahwa pengabdian harus melampaui batas kenyamanan diri sendiri.
Pada awal tahun 2022, panggilan itu datang semakin kuat. Ia merasa harus melangkah lebih jauh, menuju wilayah yang masih minim sentuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan. Keputusan besar pun diambil. Muhammad Ihsan meninggalkan suasana perkotaan dan memilih melanjutkan perjuangannya ke daerah pedalaman Lhoong, Aceh Besar.
Lhoong dikenal sebagai wilayah dengan bentang alam yang indah, tetapi di balik keindahan itu tersimpan berbagai keterbatasan. Akses jalan tidak mudah dilalui, fasilitas pendidikan dan keagamaan masih terbatas, serta kondisi infrastruktur belum memadai. Namun justru di tempat seperti itulah ia merasa dakwah harus hadir.
Di Pondok Hidayatullah Lhoong Aceh Besar, Muhammad Ihsan menjadikan pesantren sebagai markas perjuangan dakwahnya. Hari-harinya dipenuhi aktivitas membimbing para santri membaca dan menghafal Al-Qur’an, sekaligus mengajarkan ilmu-ilmu Islam sebagai fondasi dalam membangun peradaban Islam.
Ia menyadari bahwa perjuangan di pedalaman tidak selalu mudah. Jalan yang sulit ditempuh, fasilitas yang terbatas, dan kondisi hidup yang sederhana menjadi bagian dari keseharian. Namun semua itu tidak pernah membuat langkahnya surut. Dengan kesabaran dan tekad yang kuat, ia tetap bertahan menjalankan amanah dakwah.
Dalam penuturannya, ada keyakinan yang terus ia pegang: “Dengan kesabaran, ketulusan, dan tekad yang kuat, kita akan dapat mencapai hal-hal yang luar biasa.” Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan prinsip hidup yang ia jalani setiap hari di medan dakwah.
Kehadirannya di Lhoong perlahan membawa perubahan. Bukan hanya bagi para santri yang belajar di pesantren, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Ia menjadi gambaran nyata tentang arti ketulusan dalam mengabdi. Di tengah keterbatasan, ia terus menjaga semangat agar anak-anak di pelosok tetap memiliki akses belajar Al-Qur’an dan ilmu agama.
Anak-anak yang dahulu belajar dengan kemampuan terbatas mulai tumbuh menjadi generasi yang lebih percaya diri. Mereka tidak hanya belajar membaca ayat-ayat suci, tetapi juga memahami pentingnya akhlak, iman, dan tanggung jawab sebagai muslim. Dari ruang belajar sederhana di pedalaman itu, harapan tentang lahirnya generasi penjaga peradaban Islam mulai tumbuh perlahan.
Muhammad Ihsan tidak memilih jalan dakwah karena kemudahan. Ia justru datang ke tempat-tempat yang membutuhkan kesabaran lebih besar. Pilihan hidupnya menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan di panggung besar. Kadang, perubahan besar justru lahir dari tempat-tempat sunyi yang jauh dari perhatian banyak orang. (ybh/pos)

















