Ai Bisa Menjawab Pertanyaan, Tapi Tidak Bisa Gantikan Seorang Guru - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

30 Juni 2026

Ai Bisa Menjawab Pertanyaan, Tapi Tidak Bisa Gantikan Seorang Guru

TAHUN 2026 ini adalah tahun ketika Artificial Intelligence (Ai) semakin dekat dengan kehidupan kita. Banyak pelajar bertanya kepada AI seb...

TAHUN
2026 ini adalah tahun ketika Artificial Intelligence (Ai) semakin dekat dengan kehidupan kita. Banyak pelajar bertanya kepada AI sebelum bertanya kepada guru. Materi agama, tafsir, hadis, hingga fiqih kini bisa dicari hanya dalam hitungan detik.

Teknologi memang luar biasa. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. AI bisa memberi jawaban. AI tidak bisa mewariskan adab.

Di kota besar, anak-anak bisa belajar melalui internet berkecepatan tinggi. Mereka memiliki akses ke ribuan video, e-book, dan aplikasi pembelajaran.

Lalu bagaimana dengan anak-anak di pedalaman?

Masih ada daerah yang sinyal internetnya hilang timbul. Masih ada kampung yang belum memiliki guru ngaji tetap. Bahkan ada anak-anak yang harus berjalan berkilometer hanya untuk belajar membaca Iqra'.

Ironisnya, ketika dunia sedang membicarakan revolusi AI, sebagian saudara kita masih menunggu seseorang yang bersedia mengajarkan huruf Alif.

Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri.

Teknologi adalah alat.

Tetapi pendidikan Islam sejak dahulu dibangun melalui hubungan antara guru dan murid. Ada sanad ilmu. Ada keteladanan. Ada doa. Ada sentuhan akhlak yang tidak pernah bisa diprogram menjadi algoritma.

Seorang guru tidak hanya mengoreksi bacaan. Ia memperhatikan perubahan perilaku muridnya. Ia menghibur ketika murid kehilangan semangat. Ia mendoakan murid-muridnya selepas shalat.

Semua itu tidak akan pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan. Karena itulah, ketika berbicara tentang masa depan dakwah, kita tidak cukup hanya berbicara tentang teknologi. Kita juga harus memastikan hadirnya manusia-manusia yang membawa ilmu, kasih sayang, dan keteladanan ke tempat-tempat yang belum terjangkau.

Program Sahabat Dai dari Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) bergerak pada titik yang sangat mendasar. Program ini membantu menghadirkan guru ngaji dan dai yang benar-benar tinggal, mengajar, mendampingi, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.

Kalau AI sedang membentuk masa depan dunia, maka para dai sedang membentuk masa depan hati manusia. Sebagai generasi yang hidup di era digital, kita punya kesempatan melakukan sesuatu yang nyata.

Bukan sekadar membagikan konten inspiratif. Bukan hanya memberi tanda suka pada postingan dakwah. Tetapi ikut memastikan ada guru yang benar-benar hadir di depan anak-anak yang membutuhkan.

Kalau hari ini kita mampu membeli paket data, mengganti gawai, atau berlangganan berbagai layanan digital, mungkin sudah saatnya kita juga menyisihkan sebagian rezeki untuk memastikan ada cahaya ilmu yang sampai ke kampung-kampung yang belum tersentuh.

Mari jadikan teknologi sebagai jalan untuk menyebarkan kepedulian. Bagikan kisah ini. Kenalkan Program Sahabat Dai kepada lebih banyak orang.

Dan, bila Allah memberikan kelapangan rezeki, ikutlah menguatkan langkah para dai melalui dukungan terbaik yang mampu kita berikan. Karena masa depan Islam tidak hanya dibangun oleh teknologi yang canggih. Tetapi oleh guru-guru yang ikhlas.[]

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri