Semangat Pengabdian untuk Dakwah Pedalaman - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

02 Juli 2026

Semangat Pengabdian untuk Dakwah Pedalaman

HARI itu hujan turun lagi. Sejak subuh langit sudah gelap. Sungai yang kemarin masih bisa diseberangi dengan perahu kecil, kini berubah men...

HARI
itu hujan turun lagi. Sejak subuh langit sudah gelap. Sungai yang kemarin masih bisa diseberangi dengan perahu kecil, kini berubah menjadi arus cokelat yang deras. 

Jalan tanah menuju kampung mualaf di atas bukit kembali menjadi kubangan lumpur. Beberapa batang kayu yang selama ini dijadikan jembatan sudah hanyut terbawa banjir kecil semalam.

Begitulah perjalanan dakwah yang pernah dilakoni Ustadz Abdul Muhaimin, dai senior, yang kala itu menjelajahi hutan di Fatumarando, Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Dia sempat duduk beberapa menit di beranda rumah papan yang sekaligus menjadi tempat tinggal dan tempat mengajar mengaji.

Dalam hati dia bertanya, "Apakah hari ini mereka tetap menunggu?". Pertanyaan itu terjawab ketika dia tiba di kampung menjelang Dzuhur. Beberapa anak berlari sambil berteriak, "Ustaz datang... ustaz datang..."

Ada yang membawa Al-Qur'an lusuh yang sampulnya mulai terlepas. Ada yang memegang Iqra' yang sudah berkali-kali direkatkan dengan lakban bening.

Lalu seorang bapak mualaf menggenggam tangan Muhaimin cukup lama. Matanya berkaca-kaca. Beliau berkata pelan, "Kami sempat mengira ustaz tidak jadi datang karena hujan."

Kalimat itu sederhana. Tetapi Muhaimin tahu, bagi mereka, kehadiran seorang dai bukan sekadar jadwal ngaji. Ia adalah kabar bahwa mereka tidak sendirian.

Di kampung ini listrik masih belum memadai. Sinyal telepon datang dan pergi sesuka hati. Jika ada keluarga yang sakit, perjalanan menuju puskesmas memerlukan waktu berjam-jam.

Namun yang paling mereka takutkan bukan hanya keterisolasian geografis. Mereka takut anak-anak mereka tumbuh tanpa mengenal Al-Qur'an. Takut tidak ada lagi yang mengajarkan shalat. Takut tidak ada tempat bertanya ketika menghadapi persoalan agama.

Kadang Muhaimin sendiri merasa lelah. Bukan karena perjalanan yang berat. Tetapi karena memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan dakwah setiap bulan. Biaya transportasi, buku mengaji, kebutuhan keluarga, hingga biaya berpindah dari satu kampung ke kampung lain sering kali harus dihitung dengan sangat cermat.

Melalui Program Sahabat Dai, PosDai berupaya memberikan dukungan bagi banyak dai yang membuat mereka tetap mampu bertahan di tempat-tempat seperti ini.

Bukan berarti semua kesulitan hilang. Tetapi, setidaknya, mereka memiliki keyakinan bahwa masih ada saudara-saudara yang memikirkan keberlangsungan dakwah di pelosok.

Yang mungkin tinggal di kota. Tidak pernah melihat jalan berlumpur ini. Tidak pernah menyeberangi sungai ini. Tetapi doa dan kepeduliannya sampai ke sini.

Tidak jarang para dai yang mengabdi di pelosok harus pulang dalam keadaan basah. Sandal penuh lumpur. Baju terkena hujan. Namun hati mereka terasa ringan karena mereka tahu, masih ada anak-anak yang tersenyum ketika mampu membaca satu ayat lagi.

Masih ada keluarga yang semakin mantap menjalankan Islam. Dan, masih ada orang-orang baik yang membuat semua perjalanan ini tetap mungkin dilakukan.

Jika suatu hari Anda bertanya, "Apa arti menjadi Sahabat Dai?" Mungkin jawabannya sederhana. Menjadi alasan agar seorang dai tetap bisa mengetuk pintu kampung berikutnya.[]

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri