Setelah Asap Kurban Menghilang, Masihkah Kita Mengingat Pelosok?
IDUL Adha telah berlalu. Hiruk-pikuk penyembelihan hewan kurban sudah berganti dengan rutinitas biasa. Di media sosial, dokumentasi distrib...
IDUL Adha telah berlalu. Hiruk-pikuk penyembelihan hewan kurban sudah berganti dengan rutinitas biasa. Di media sosial, dokumentasi distribusi daging perlahan tenggelam oleh isu-isu baru.
Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan. Apakah pemerataan manfaat kurban benar-benar sudah terjadi?
Di banyak kota besar, distribusi daging berlangsung melimpah. Sebagian laporan bahkan menunjukkan adanya penerima yang memperoleh lebih dari satu paket karena banyaknya penyelenggara kurban dalam satu wilayah.
Sementara itu, masih terdapat daerah-daerah terpencil yang hanya sesekali merasakan penyembelihan hewan kurban. Bukan karena masyarakat di sana tidak membutuhkan, melainkan karena akses distribusi dan keterbatasan jaringan pelayanan dakwah masih menjadi tantangan nyata.
Fenomena ini mengajarkan satu hal penting. Filantropi umat terkadang masih terlalu berpusat pada wilayah yang mudah dijangkau. Kita sering memilih lokasi yang dekat. Yang mudah didokumentasikan. Yang sederhana proses distribusinya.
Padahal, semangat kurban mengandung pesan pemerataan. Bukan sekadar memperbanyak jumlah penerima. Tetapi menghadirkan kebahagiaan kepada mereka yang selama ini jarang tersentuh.
Hal yang sama juga berlaku dalam dakwah. Masih banyak masyarakat yang hanya didatangi dai beberapa kali dalam setahun. Masih banyak anak yang belajar mengaji tanpa guru tetap.
Masih banyak mualaf yang menjalani perjalanan iman dengan pendampingan yang sangat terbatas. Ironisnya, persoalan seperti ini tidak selalu terlihat. Karena tidak viral. Tidak menjadi berita utama. Dan, ia tidak muncul dalam percakapan sehari-hari.
Di sinilah kita dapat melihat arti penting Program Sahabat Dai PosDai. Program ini tidak hanya berbicara tentang bantuan sesaat. Ia berusaha menghadirkan kehadiran yang berkelanjutan.
Membangun hubungan jangka panjang antara dai dan masyarakat. Menjadikan pelosok bukan sekadar lokasi distribusi bantuan musiman, tetapi bagian dari perhatian yang terus hidup sepanjang tahun.
Filantropi Islam seharusnya tidak berhenti pada momentum. Ia harus berubah menjadi gerakan yang terus berjalan. Jika Idul Adha mengajarkan kita berbagi daging. Maka hari-hari setelahnya mengajarkan kita untuk terus berbagi perhatian.
Barangkali kita tidak bisa mengunjungi seluruh pelosok Indonesia. Tetapi kita dapat memastikan ada dai yang tetap tinggal di sana. Yang menghidupkan masjid. Mengajarkan Al-Qur'an. Mendampingi masyarakat. Dan menjaga agar cahaya Islam tetap menyala.
Mungkin itulah bentuk pemerataan yang paling panjang manfaatnya.[]
















