Keteguhan Rosidah Menguatkan Dakwah di Wilayah Transmigrasi - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

19 Juli 2026

Keteguhan Rosidah Menguatkan Dakwah di Wilayah Transmigrasi

DI KAWASAN transmigrasi Trans Subur, Desa Marga Baru, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, pengabdian seorang d...

DI KAWASAN
transmigrasi Trans Subur, Desa Marga Baru, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, pengabdian seorang daiyah terus berlangsung di tengah berbagai keterbatasan. 

Dialaha Rosidah, S.Pd., perempuan kelahiran Kampung Baru, Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, pada 6 Maret 1975, yang memilih menjadikan pelosok sebagai ruang pengabdian. 

Alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, yang mulai menempuh pendidikan sebagai santri pada 1992 itu, hingga kini tetap istiqamah mendampingi masyarakat yang masih membutuhkan pembinaan keislaman.

Perjalanan dakwahnya dimulai setelah mengikuti pernikahan mubarak 100 pasangan pada 1997. Bersama suaminya, Ustadz Subani, ia menerima amanah merintis dakwah di Muara Jambi, Provinsi Jambi, hingga 2007. 

Setelah dua tahun mengabdi di Hidayatullah Bengkulu, pada 29 Desember 2009 ia kembali berpindah tugas ke Musi Rawas untuk membuka medan dakwah baru di kawasan transmigrasi yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas Utara.

Di wilayah inilah Rosidah membangun Rumah Qur'an, majelis taklim, TPQ, serta merintis TKIT Yaa Bunayya yang pada awalnya masih menumpang di bangunan sewaan. 




Seiring waktu, perjuangan ibu 6 anak ini membuahkan hasil dengan tersedianya lahan seluas 5.600 meter persegi yang kini menjadi lokasi Madrasah Diniyah, Rumah Qur'an Hidayatullah, Rumah Tahfidz, TK, dan SD Integral Yaa Bunayya.

Pembinaan tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah. Rosidah secara rutin mendatangi masyarakat binaan di Desa Sidomulyo, Pelita Jaya, Marga Baru, hingga Lubuk Primbun, wilayah pedalaman Desa Lubuk Pandan yang termasuk kawasan 3T untuk mengajarkan Al Qur'an. 

Daerah tersebut masih menghadapi keterbatasan listrik, akses transportasi yang sulit, serta tantangan pembinaan baca tulis Al-Qur'an. Untuk mencapai lokasi, perjalanan dari ibu kota kabupaten memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat jam, sementara transportasi umum hanya tersedia satu kali setiap hari.

Di tengah kondisi itu, Rosidah tetap menjalankan amanah dengan segala keterbatasan. Kendaraan operasional masih harus bergantian dengan suaminya maupun Ketua DPD Hidayatullah setempat, Ust. Supri, S.I.Kom. 

Ketika jadwal pembinaan bertepatan dengan kegiatan dakwah lainnya, pelayanan kepada masyarakat kerap harus ditunda. Karena itu, kebutuhan akan sepeda motor operasional menjadi sangat mendesak agar pembinaan dapat berlangsung secara berkelanjutan, terutama di wilayah-wilayah yang rawan terhadap pengaruh pendangkalan aqidah.

"Meski kemampuan terbatas dan masih terkendala jarak dari satu titik ke titik binaan lainnya karena tidak ada motor, kami harus tetap menjalankan amanah dakwah ini karena ada tangggung jawab moral yang harus dipikul," katanya semangat. 

Kisah Rosidah merupakan potret ribuan dai dan guru ngaji yang bekerja dalam senyap demi menjaga cahaya Islam di berbagai pelosok Indonesia. 

Melalui Program Sahabat Dai yang digagas Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), masyarakat diajak menjadi bagian dari ikhtiar besar memperkuat pengabdian para dai, daiyah, dan guru ngaji melalui dukungan terhadap kebutuhan operasional maupun sarana dakwah. 

Setiap kontribusi yang diberikan akan memperluas jangkauan pembinaan, memperkokoh pendidikan Al-Qur'an, serta menghadirkan harapan baru bagi lahirnya generasi Qurani di wilayah-wilayah yang paling membutuhkan sentuhan dakwah. (ybh/pos)

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri