Jalan Pengabdian Ustadz Abdul Muin Merajut Nusantara dengan Cahaya Al-Qur’an
ADA perjalanan pengabdian yang tidak selalu tercatat dalam sorotan media. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain, dari lingkungan pendidi...
ADA perjalanan pengabdian yang tidak selalu tercatat dalam sorotan media. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain, dari lingkungan pendidikan ke pelayanan sosial, lalu berlanjut ke wilayah yang secara geografis dan sosial memiliki tantangan berbeda. Selama puluhan tahun, Abdul Muin menempuh jalan semacam itu bersama Hidayatullah.
Lahir di Mataram, 7 Januari 1981, Abdul Muin memulai perjalanan pengabdiannya pada 1996 di Hidayatullah Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dari sana, lintasan hidupnya bergerak menuju Malang, Lampung, Timika, Papua, hingga Jakarta.
Setiap tempat menghadirkan amanah berbeda, tetapi seluruhnya bertemu pada satu bidang yang sama: dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada 1998, Abdul Muin melanjutkan pengabdian ke Hidayatullah Malang. Selama kurang lebih 12 tahun, hingga 2010, ia terlibat di Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Malang dan mendapatkan amanah sebagai staf Humas Ar-Rohmah Putri. Dua pengalaman itu mempertemukan dirinya dengan dua sisi penting kerja keumatan.
Di BMH, ia berhadapan dengan pelayanan sosial dan pengelolaan program untuk masyarakat. Sementara melalui kehumasan, ia mengembangkan pengalaman dalam komunikasi, publikasi, dan hubungan kelembagaan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk kapasitasnya dalam menjalankan amanah di bidang dakwah.
Setelah Malang, perjalanan itu berlanjut ke Lampung pada 2010 hingga 2013 melalui BMH Hidayatullah Lampung. Tak lama kemudian, medan pengabdian berubah lebih jauh. Pada pertengahan 2013, Abdul Muin mendapat amanah di Hidayatullah Timika, Papua.
"Dakwah memang tidak mengenal kata henti, kapan dan dimanapun berada niat meniti jalan dakwah harus selalu terpatri," kata Abdul Muin kepada media ini, Selasa (11/8/2026).
Di Timika, ia menjalankan dua peran sekaligus sebagai Ketua BMH Timika dan guru di SMA Integral Hidayatullah Timika. Perpaduan kedua amanah itu memperlihatkan bagaimana dakwah dijalankan melalui pelayanan sosial sekaligus pendidikan. Bukan hanya mengelola program yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, ia juga terlibat langsung dalam proses pendidikan dan pembinaan generasi muda.
Timika menjadi salah satu fase penting karena mempertemukan pengalaman dakwah dengan kondisi sosial dan geografis yang berbeda dari wilayah sebelumnya. Namun, perjalanan tersebut belum berhenti.
"Di Timika saya banyak belajar terutama dari para dai senior dengan menyerap pengalaman mereka sebagai pelaku dakwah di pedalaman," katanya.
Amanah di Jakarta
Sejak 2014, Abdul Muin mengabdi di Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat dan kini dipercaya sebagai ketua Posdai Pusat yang berkedudukan di Jakarta. Amanah ini menjadi titik temu dari berbagai pengalaman yang sebelumnya ia jalani.
Posdai sendiri merupakan gerakan swadaya yang diinisiasi untuk mengarusutamakan pengembangan kapasitas dan kuantitas dai, terutama dalam memenuhi kebutuhan tenaga dakwah yang siap bertugas di daerah terpelosok, terpencil, tertinggal, dan wilayah dengan populasi Muslim minoritas.
Di sinilah persoalan dakwah dipandang bukan semata tentang keberadaan dai, tetapi juga tentang kesiapan mereka menjalankan tugas di berbagai kondisi. Para dai yang dilayani Posdai menjangkau kota-kota jauh, daerah terpencil dan minoritas, wilayah konflik, hingga kawasan yang menghadapi tantangan pemurtadan.
Mereka bekerja sebagai mu’allim, atau pengajar Al-Qur’an, sekaligus menjalankan peran sosial di tengah masyarakat. Sebagian hadir di wilayah yang miskin sumber daya dan jauh dari pusat pelayanan. Sebagian lainnya berada di lingkungan masyarakat miskin dan kelompok yang termarjinalkan.
"Karena itu, pengembangan kapasitas dan kuantitas dai memiliki arti penting dalam kerangka kerja Posdai," katanya. Dia menjelaskan, kapasitas berkaitan dengan kemampuan dai menjalankan tugas dakwah, sementara kuantitas berkaitan dengan keterpenuhan kebutuhan dai di berbagai wilayah. Keduanya menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan dakwah yang tersebar di wilayah Indonesia.
Jangkauan itu juga membawa dimensi kebangsaan. Para dai merakit wilayah-wilayah perbatasan dan pulau-pulau Nusantara dalam jaringan dakwah, sembari mengajak masyarakat membangun negeri dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perjalanan Abdul Muin sejak Mataram hingga Jakarta menjadi lintasan yang mempertemukan berbagai bentuk pengabdian yang kini berkaitan dengan kerja Posdai dalam pelayanan sosial, pendidikan, komunikasi kelembagaan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan para dai.
Pengalaman panjang di lapangan menjadi bagian dari konteks ketika Posdai menempatkan diri sebagai lembaga yang berkhidmat kepada para dai yang tersebar di Indonesia. Mereka yang bekerja di pelosok sering kali menjalankan tugas jauh dari perhatian publik. Kerja mereka berlangsung melalui pengajaran Al-Qur’an, pembinaan masyarakat, pelayanan sosial, dan pendampingan umat.
"Para dai pedalaman ini adalah orang-orang yang memilih untuk berani. Keberanian itu tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar, melainkan melalui kesediaan untuk datang, tinggal, mengajar, mendampingi, dan terus bekerja di wilayah yang membutuhkan kehadiran mereka," katanya.
Dia menjelaskan, kerja Posdai bertumpu pada satu gagasan sederhana, yaitu, dakwah harus hadir di tempat masyarakat membutuhkannya. Karena itu, merajut jaringan dai berarti juga merajut hubungan antarmasyarakat, antarpulau, dan antarkawasan melalui pendidikan dan pembinaan.
Di balik perjalanan panjang itu terdapat para dai yang mungkin tidak banyak muncul dalam pemberitaan, tetapi terus bekerja di tempat mereka ditugaskan. Mereka mengajarkan Al-Qur’an, mendampingi masyarakat, dan membangun kehidupan bersama dalam ruang-ruang yang jauh dari pusat perhatian.
Perjalanan panjang penugasan yang dilakoni Abdul Muin bagian dari ikhtiar pengabdian kepada Allah SWT. Perjalanan itu bertemu dengan ikhtiar yang lebih luas dalam rangka memastikan cahaya Al-Qur’an terus menemukan jalannya, bahkan hingga ke sudut-sudut Nusantara yang paling jauh.



















