Dakwah Menghadirkan Hikmah di Tengah Budaya Konten dan Riuh Algoritma
SEORANG pengguna media sosial dapat melewati puluhan video dalam beberapa menit. Satu konten membuat tertawa, konten berikutnya membuat mar...
SEORANG pengguna media sosial dapat melewati puluhan video dalam beberapa menit. Satu konten membuat tertawa, konten berikutnya membuat marah, lalu sebuah potongan ceramah muncul selama tiga puluh detik sebelum jempol kembali bergerak.
Begitulah ruang digital bekerja. Perhatian manusia menjadi sesuatu yang diperebutkan.
Dalam situasi seperti ini, dakwah menghadapi peluang sekaligus ujian. Islam memiliki kesempatan menjangkau orang yang mungkin tidak pernah datang ke masjid atau majelis ilmu.
Namun, pada saat yang sama, pesan agama dapat ikut terseret dalam logika platform: semakin keras, semakin menarik; semakin kontroversial, semakin mudah dibagikan.
Persoalannya bukan apakah dakwah boleh menggunakan media sosial. Justru sebaliknya, ruang digital perlu diisi dengan ilmu dan kebaikan. Yang perlu direnungkan adalah apakah cara kita berdakwah masih tunduk pada adab Islam ketika berhadapan dengan mekanisme algoritma.
Ada perbedaan antara membuat pesan menarik dan membuat pesan sengaja memancing kemarahan. Ada perbedaan antara menyederhanakan bahasa agar mudah dipahami dan menyederhanakan persoalan agama secara berlebihan. Ada pula jarak yang jauh antara mengoreksi kekeliruan dan mempermalukan seseorang di hadapan ribuan pengikut.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125 agar manusia menyeru ke jalan Tuhan dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdialog dengan cara yang terbaik. Prinsip ini tetap relevan meskipun mimbar dakwah kini juga berbentuk layar ponsel.
Dai digital membutuhkan kecakapan baru. Bukan hanya memahami materi agama, tetapi juga memahami karakter audiens, konteks komunikasi, budaya visual, serta konsekuensi sebuah kalimat ketika dilepaskan dari konteks dan beredar tanpa batas.
Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama. Tidak semua konten agama yang lewat di beranda harus langsung dipercaya atau disebarkan. Literasi umat menjadi bagian dari dakwah itu sendiri.
Berhenti sejenak, memeriksa sumber, memahami konteks, dan tidak ikut menyebarkan sesuatu yang merendahkan orang lain adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan Islam.
Dakwah tidak harus kalah cepat dari konten yang gaduh. Ia hanya perlu konsisten menghadirkan sesuatu yang semakin langka, yaitu kejernihan.
Sebab, di tengah jutaan suara yang meminta perhatian, umat justru membutuhkan orang-orang yang bersedia mengajak mereka berpikir tanpa kehilangan iman, berbeda tanpa kehilangan adab, dan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan arah. (din/adm)
















