Dari Mataram, PosDai Perkuat Kualitas Guru Ngaji melalui Pelatihan Nasional
Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat membuka secara resmi Program Pelatihan dan Standarisasi Guru Ngaji yang digelar di Gedung Badan Pe...
Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat membuka secara resmi Program Pelatihan dan Standarisasi Guru Ngaji yang digelar di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jalan Pemuda No. 59, Dasan Agung Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, pada Sabtu (17/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar penguatan kualitas sumber daya manusia dakwah, khususnya para guru ngaji yang berkhidmat langsung di tengah masyarakat.
Acara pembukaan dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan daerah dan lembaga keumatan. Panitia turut mengundang Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Nusa Tenggara Barat, TGH. Dr. Lalu Muhammad Iqbal, MA, yang diwakili oleh Wakil Ketua III Baznas NTB, Drs. M. Ardi Samsuri. Hadir pula Ketua DPRD Kota Mataram, H. Abdul Malik, S.Sos, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah NTB Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Ketua Dewan Murabbi Wilayah NTB Ust. Mudzakir Khalil, M.HI, serta Ust. Ismuji Ibnu Katsiran, S.Pd.I selaku senior HIdayatullah.
Ketua PosDai Pusat, Ust. Abdul Muin, S.Sos., dalam sambutannya secara daring menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung.
Ia menegaskan bahwa dukungan dari Baznas NTB dan fasilitasi BPSDM NTB mencerminkan kepedulian nyata terhadap pengembangan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. “Dukungan ini bukan sekadar bantuan program, tetapi wujud nyata keberpihakan terhadap dakwah, pendidikan Al-Qur’an, dan masa depan generasi umat,” ujar Abdul Muin.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan kegiatan di lingkungan BPSDM memiliki makna strategis. Menurutnya, kehadiran para dai dan guru ngaji di pusat pengembangan sumber daya manusia milik pemerintah daerah memperlihatkan bahwa pembangunan manusia dan dakwah merupakan dua agenda yang saling terkait dan tidak terpisahkan.
Dalam paparannya, Abdul Muin menjelaskan posisi PosDai sebagai wadah pengabdian para dai, guru ngaji, dan pendidik Islam yang bekerja langsung di tengah umat. Sejak awal berdirinya, PosDai berkomitmen mengirim dan membina dai ke berbagai pelosok negeri, memperkuat lembaga pendidikan Islam dan rumah-rumah Qur’an, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dakwah melalui pelatihan dan standarisasi, serta membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan. Program pelatihan yang dibuka hari itu, menurutnya, merupakan bagian dari proses panjang penguatan dakwah berbasis kualitas.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi penguatan kompetensi dari para pemateri yang berpengalaman di bidang pendidikan Al-Qur’an. Panitia menghadirkan Ust. Sulhanudin, S.Pd., M.Pd., dan Ust. H. Samsul Hakim, Gr., S.Pd.I, sebagai pemateri utama. Kedua narasumber tersebut membekali peserta dengan pendekatan pedagogis, metode pembelajaran Al-Qur’an, serta penguatan peran guru ngaji dalam konteks tantangan dakwah kontemporer.
Abdul Muin menekankan bahwa guru ngaji memegang peran sentral dalam pembentukan generasi. “Guru ngaji bukan sekadar pengajar bacaan Al-Qur’an. Guru ngaji adalah penanam iman, penjaga akhlak, dan pewaris tugas para nabi,” tuturnya. Menurutnya, dari tangan para guru ngaji inilah anak-anak pertama kali mengenal Al-Qur’an, menumbuhkan kecintaan pada Islam, dan menemukan arah hidupnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan dakwah saat ini semakin kompleks, sehingga pelatihan dan standarisasi menjadi kebutuhan mendesak. Program ini diharapkan melahirkan guru-guru ngaji yang memiliki kompetensi pembelajaran yang baik, terstandar secara kualitas dan manajemen, menjunjung tinggi adab dan keteladanan, serta siap menjadi ujung tombak dakwah di sekolah, rumah Qur’an, dan masyarakat.
Menjelang akhir sambutannya, Abdul Muin mengajak seluruh peserta memaknai kegiatan ini sebagai ikhtiar menjaga cahaya Al-Qur’an agar tetap hidup di tengah umat. Ia menggambarkan bagaimana majelis-majelis kecil yang sederhana kerap menjadi titik awal lahirnya perubahan besar. “Perubahan besar selalu berawal dari majelis kecil yang ikhlas,” ujarnya.
Ia menutup sambutan dengan doa agar seluruh langkah dalam pelatihan ini dicatat sebagai ibadah dan setiap ilmu yang diamalkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Program Pelatihan dan Standarisasi Guru Ngaji ini pun diharapkan memperkuat peran guru ngaji sebagai pilar utama pendidikan keislaman dan dakwah di tingkat akar rumput.

















