Membangun Peradaban atau Sekadar Membangun Bangunan?
SELAMA bertahun-tahun, ada satu pola yang terus berulang. Ketika sebuah kampanye pembangunan masjid diumumkan, respons publik biasanya sang...
SELAMA bertahun-tahun, ada satu pola yang terus berulang. Ketika sebuah kampanye pembangunan masjid diumumkan, respons publik biasanya sangat cepat. Ketika program pembangunan gedung pendidikan diluncurkan, dukungan juga mengalir deras.
Semua itu tentu merupakan kabar baik.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri.
Siapa yang akan menghidupkan seluruh bangunan itu lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun setelah selesai dibangun?
Dalam ilmu manajemen filantropi modern, terdapat istilah human capital investment. Investasi terbaik bukan hanya pada aset fisik, tetapi pada manusia yang menggerakkan aset tersebut.
Masjid tanpa imam yang membina jamaah akan kehilangan denyutnya.
Madrasah tanpa guru yang kompeten akan kehilangan ruhnya.
Majelis taklim tanpa dai yang istiqamah perlahan akan kehilangan jamaahnya.
Sejatinya pula tantangan terbesar organisasi sosial bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan memastikan keberlanjutan sumber daya manusianya. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia dakwah.
Indonesia memiliki ribuan desa yang masih membutuhkan pembinaan keislaman secara berkelanjutan. Yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi kehadiran manusia yang mampu menjaga kehidupan spiritual masyarakat setiap hari.
Seorang dai yang tinggal di sebuah desa akan melaksanakan ratusan bahkan ribuan aktivitas dakwah dalam satu tahun. Ia memimpin shalat, mengajar Al-Qur'an, membimbing mualaf, mendampingi keluarga yang berkonflik, menjadi penghubung masyarakat dengan berbagai program pemberdayaan, hingga menjadi tempat warga mencari jawaban atas persoalan kehidupan.
Dampaknya tidak berhenti pada satu kegiatan.
Dampaknya bertumbuh.
Itulah yang dalam dunia filantropi disebut sebagai multiplier effect.
Karena itu, Program Sahabat Dai PosDai menarik untuk dipandang dari perspektif keberlanjutan.
Program ini tidak hanya berbicara mengenai bantuan operasional bagi para dai. Ia sesungguhnya sedang membangun kapasitas manusia yang akan terus menghadirkan manfaat sosial dalam jangka panjang.
Seorang dai yang bertugas secara konsisten di sebuah wilayah menghasilkan nilai sosial yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Semakin lama ia bertugas, semakin besar modal sosial yang terbentuk di tengah masyarakat.
Itulah sebabnya investasi kepada manusia sering kali menghasilkan manfaat yang jauh lebih panjang dibandingkan investasi fisik semata.
Ramadhan, Idul Adha, dan momentum-momentum keagamaan memang penting. Namun keberlanjutan dakwah membutuhkan dukungan yang tidak berhenti ketika momentum selesai.
Mungkin sudah waktunya kita mulai bertanya.
Bukan lagi "bangunan apa yang akan kita dirikan?"
Tetapi "siapa yang akan menjaga umat setelah bangunan itu berdiri?"
Jika jawabannya adalah para dai, maka memastikan mereka tetap mampu mengabdi adalah bagian dari investasi peradaban yang layak diperjuangkan bersama.[]
















