Teguh Mengabdi di Garis Depan Menjaga Akidah Umat
MUSIM libur sekolah telah berakhir. Di kota-kota besar, anak-anak kembali memasuki ruang kelas dengan semangat tahun ajaran baru. Namun, di...
MUSIM libur sekolah telah berakhir. Di kota-kota besar, anak-anak kembali memasuki ruang kelas dengan semangat tahun ajaran baru. Namun, di sejumlah wilayah perbatasan dan kawasan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), ada persoalan lain yang jauh lebih sunyi dan jarang menjadi pembahasan publik: melemahnya benteng pendidikan akidah akibat minimnya kehadiran pembimbing agama yang menetap.
Berbagai laporan dari lembaga dakwah, komunitas kemanusiaan, dan para pendamping lapangan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang serupa. Di sejumlah wilayah terpencil, akses terhadap pendidikan agama berlangsung sangat terbatas. Anak-anak hanya bertemu guru mengaji beberapa kali dalam sebulan, bahkan ada kampung yang baru didatangi dai setelah menempuh perjalanan berjam-jam melewati sungai, jalan berlumpur, atau jalur pegunungan.
Kondisi seperti ini menciptakan ruang kosong yang berbahaya.
Ketika literasi keislaman melemah, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap berbagai pengaruh yang datang tanpa kemampuan untuk melakukan penyaringan secara kritis. Persoalannya bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan ketiadaan pendamping yang mampu menjelaskan ajaran Islam secara utuh, santun, dan berkesinambungan.
Dalam banyak kesempatan, ancaman terhadap ketahanan akidah tidak hadir secara frontal. Ia datang melalui pendekatan sosial, pendidikan, bantuan kemanusiaan, hingga relasi keseharian yang berlangsung bertahun-tahun. Ketika masyarakat tidak memiliki pendamping keagamaan yang konsisten, proses pendampingan dari pihak lain menjadi jauh lebih dominan.
Inilah mengapa kehadiran seorang dai yang tinggal bersama masyarakat memiliki makna yang jauh melampaui aktivitas ceramah.
Seorang dai mengenal setiap keluarga, menemani anak-anak belajar Al-Qur'an, mendampingi para mualaf, menyelesaikan persoalan rumah tangga, hingga menjadi tempat masyarakat bertanya ketika menghadapi persoalan hidup. Ia bukan tamu yang datang sesekali, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat.
Sayangnya, tidak semua dai mampu bertahan lama di wilayah seperti itu. Tantangan geografis, keterbatasan biaya operasional, kebutuhan keluarga, hingga minimnya dukungan menjadi ujian yang nyata.
Di sinilah Program Sahabat Dai yang digagas Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) memiliki arti strategis. Program ini tidak hanya mengirim dai ke daerah-daerah yang membutuhkan, tetapi juga berupaya memastikan mereka dapat mengabdi secara berkelanjutan melalui dukungan operasional dan pendampingan yang memadai.
Membangun masjid adalah amal mulia. Namun memastikan ada dai yang menghidupkan masjid setiap hari adalah investasi peradaban yang dampaknya jauh lebih panjang.
Masyarakat Indonesia memiliki tradisi gotong royong yang kuat. Semangat itu dapat diwujudkan dengan menjadi bagian dari gerakan yang menjaga benteng akidah di garis depan Nusantara. Dukungan tidak selalu harus berupa jumlah yang besar. Infaq, shadaqah, menyebarkan informasi tentang program, hingga mengajak keluarga dan sahabat untuk peduli merupakan kontribusi yang memiliki arti besar.
Karena pada akhirnya, menjaga negeri tidak hanya dilakukan di batas wilayah geografis. Negeri ini juga dijaga melalui hadirnya orang-orang yang dengan sabar menyalakan cahaya ilmu di tempat-tempat yang nyaris tak pernah terlihat.[]
















