Menguatkan Gerakan Dakwah Pedalaman - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

17 September 2026

Menguatkan Gerakan Dakwah Pedalaman

ADA sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Mengapa di banyak kota besar kita dapat menemukan begitu banyak kajian, seminar, podc...

ADA
sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Mengapa di banyak kota besar kita dapat menemukan begitu banyak kajian, seminar, podcast, dan aktivitas dakwah yang melimpah, sementara pada saat yang sama masih ada wilayah yang kesulitan mendapatkan guru ngaji tetap?

Ini bukan kritik terhadap dakwah perkotaan. Dakwah di kota tetap penting. Namun persoalannya terletak pada distribusi.

Sebagaimana pembangunan ekonomi bisa mengalami ketimpangan, demikian pula sumber daya dakwah. Di sebagian tempat, umat memiliki akses kepada puluhan ustaz dan lembaga pendidikan Islam.

Sementara di wilayah lain, satu dai harus melayani beberapa kampung sekaligus. Akibatnya, muncul persoalan yang tidak boleh dianggap remeh.

Masih banyak anak-anak yang belum lancar membaca Al-Qur'an. Masih banyak masyarakat yang minim pembinaan keislaman berkelanjutan. Masih banyak daerah yang mengalami kekurangan kader guru ngaji.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi ini terjadi bukan hanya di daerah pedalaman yang sangat terpencil.

Fenomena serupa mulai terlihat di kawasan urban-fringe, yakni wilayah pinggiran kota yang berkembang cepat secara fisik tetapi belum sepenuhnya memperoleh perhatian dalam aspek pembinaan keagamaan.

Kita sedang menghadapi tantangan kaderisasi yang nyata.

Selama ini perhatian publik sering tertuju pada figur-figur dakwah yang populer di media sosial atau panggung besar. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun umat juga perlu memberi perhatian kepada para dai yang bekerja jauh dari sorotan.

Mereka tidak memiliki jutaan pengikut. Mereka tidak tampil dalam podcast terkenal. Mereka tidak viral.

Tetapi merekalah yang setiap hari memastikan anak-anak tetap belajar Al-Qur'an, membina mualaf, mendampingi masyarakat, dan menjaga keberlangsungan pendidikan Islam di akar rumput.

Jika tidak ada regenerasi dan distribusi dai yang baik, maka kesenjangan pembinaan umat akan semakin lebar.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih strategis. Bukan hanya membangun fasilitas. Bukan hanya menyelenggarakan kegiatan sesaat.

Tetapi memastikan ada manusia-manusia penggerak yang hadir secara konsisten di tengah masyarakat.

Di sinilah langkah Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) melalui program Sahabat Dai sebagai sebuah ikhtiar menguatkan gerakan dakwah pedalaman.

Program ini tidak sekadar berbicara tentang bantuan. Program ini berbicara tentang keberlanjutan. Tentang memastikan para dai tetap mampu mengabdi. Tentang memperkuat ekosistem kaderisasi.

Gerakan ini adalah tentang menjaga agar wilayah-wilayah yang selama ini minim sentuhan dakwah tetap mendapatkan pendampingan.

Membangun masjid adalah amal yang mulia. Namun menguatkan orang-orang yang menghidupkan masjid adalah kebutuhan yang tidak kalah penting.

Kita membutuhkan lebih banyak guru ngaji. Lebih banyak pembina mualaf. Lebih banyak pendamping umat. Lebih banyak dai yang siap hadir di daerah-daerah yang belum banyak disentuh.

Dan, untuk mewujudkan itu, diperlukan gotong royong umat.

Hari ini mungkin kita menikmati kemudahan belajar agama melalui berbagai platform. Namun di tempat lain, masih ada masyarakat yang menunggu kehadiran seorang guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tentang Islam.

Karena itu, mendukung penguatan para dai bukan hanya soal membantu individu.

Ini adalah upaya menjaga kesinambungan dakwah, memperkuat ketahanan umat, dan memastikan bahwa cahaya ilmu tetap menjangkau seluruh penjuru negeri, termasuk wilayah-wilayah yang paling jauh dari keramaian.[]

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri